Pages

Subscribe:

Senin, 19 Mei 2014

Aku Belajar Darinya

contoh hape pertamaku
(gambar ngambil dari mesin pencari)
          “ Yan, ini bawa hp bapak, biar emak lu bisa ngehubungin lu di sono” (Yan, bawa hp bapak supaya ibumu bisa berkomunikasi ketika mu di sana) sambil menyodorkan handphone (hp) Smart berwana hitam tanpa kaca pelindung lcd.

          “Ya udah, hati-hati lu di sono ya. Pokoknya jangan nakal di tempat orang” (ya sudah, hati-hati di sana. Yang terpenting jangan nakal di tempat orang) lanjutnya.

Momen ini adalah detik-detik terakhir sebelum aku berangkat ke negeri antah brantah untuk menuntut ilmu ke negeri tembakau (Jember). Perlu diketahui juga momen tersebut  merupakan detik-detik pertamaku memiliki alat kumunikasi secara pribadi.

          Handphone pertamaku tidak keren apalagi canggih, bayangkan saja ketika hidup layarnya berwarna orange, tidak bisa diisi lagu, tidak bisa ditambah game, dan tidak bisa untuk berfoto ria. Namun hp sakti madraguna, pasalnya sudah lebih dari sepuluh kali terjatuh hingga kaca pelindung lcd-nya pecah, dua kali berenang di sayur soup yang masih panas dan dua kali juga berenang di dalam segelas kopi. Setelah mengalami beberapa siksaan hp tersebut tetap mampu berfungsi sebagaiman mestinya walau tanpa kaca pelindung lcd.

          “Allah tidak akan menyianyiakan bagi hamba-Nya yang menuntut ilmu”, kata-kata itulah yang menjadi penguat aku untuk menuntut ilmu, terlebih ini adalah hal pertamaku menuntut ilmu sangat jauh dari kampung halaman dan dengan saku seadanya.

          Ada suatu kejadian dimana aku memengenal kebesaran Tuhan dengan perantara hp tersebut. Kisah tersebut berawal dari pertukaran hp dengan sahabatku bernama Machy. Barang yang ditukar adalah hp smart-ku dengan hp Telkomsel dual simcard qwerty yang  jauh lebih maju. Motif pertukaran ini adalah karena temanku kasihan melihat hp yang aku miliki, karena dia khawatir membuat aku tersinggung akhirnya ijab sahabatku dari pertukaran tersebut adalah bahwa hp smartku digunakan sebagai modem untuk laptopnya. Tidak ingin menyakiti niat baiknya akupun menyetujui pertukaran hp beserta nomernya.

contoh hape yang ditukar Machy.
          Sangat senang dan bangga sekali aku memiliki hape yang lebih keren pada saat itu, karena hp dual simcard dengan tombol qwerty merupakan hape yang banyak digunakan anak muda pada saat itu, dengan kemampuan bisa internetan, mendengarkan musik, layarnya full color dan memiliki kamera.

          Namun Kebahagiaan tersebut hanya berlangsung kurang dari tiga minggu, kecelakaan tunggal tertulis dalam kisah sejarah hidupku. Aku menabrak sebuah pembatas jembatan hingga pembatas jalan tersebut pecah dan aku terbanting dari sepeda motor. Kecelakaan tersebut mengakibatkan tubuhku terdapat lecet di beberapa bagian namun yang lebih menderita adalah sepeda motor yang aku kendarai. Dia tidak dapat berjalan lagi akibat roda depan melengkung yang membetuk seperti huruf L ditambah stirnya bengkok.

          Kemudian aku merogoh ke kantong celanaku mengambil hape untuk menghubungi teman-temanku meminta bantuan. Betapa shoknya aku melihat hp telkomselku sudah membentuk huruf U dengan layar yang pecah. Dapat dikatakan dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

          Setelah kejadian tersebut hidupku sudah tidak ada semangat lagi pandanganku kosong. Dalam pikiranku yang terbesit adalah bagaimana caranya untuk mengganti semua kerusakan yang telah aku perbuat. Aku mencoba menghitung berapa besar biaya yang harus aku keluarkan kemudian mncul nominal sekitar Rp 500.000. Mungkin bagi sebagian orang itu bukanlah nominal yang besar, namun bagiku itu adalah nominal luar biasa. Hal tersebut aku lakukan karena orang tuaku tidak bisa mengirimi uang seperti teman-teman kuliahku lainnya. Ayahku yang bekerja sebagai tukang bangunan dimana dia harus memenuhi kebutuhan ibu dan ke empat adikku itupun kami masih kekurangan. Untuk kebutuhan sehari-hariku di kampus  saja aku harus berjualan kripik itupun belum termasuk biaya kuliah.

          Berita kecelakaan dan kerusakan tersebut terdengar sampai ke telinga Machy, hingga suatu hari dia menemui aku sambil menyodorkan hp smartku yang sudah menginap di rumahnya kurang lebih satu bulan.

“Ini hp mu ambil lagi aja Yan, lagipula hp-mu gak pernah aku hidupkan apalagi aku pakai” Seru Machy.

Aku sempat beberapa kali menolaknya, karena aku merasa tidak enak dengannya. Aku sudah merusak hp-nya sekarang dia mengembalikan hp-ku tanpa harus mengganti apapun. Sungguh baik sahabatku yang satu ini. Dalam hati aku berdoa semoga sahabatku ini diberi kebaikan yang berlimpah oleh Allah SWT.

*****

          Enam minggu kemudian. Setelah menyelesaikan ujian semester aku dan masuk yang dikenal dengan minggu tenang, dimana sudah tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar di kampus. Minggu dimana mahasiswa jantungnya berdebar menunggu hasil kuliahnya selama satu semester. Kesempatan ini aku jadikan sebagai waktu untuk bermain ke rumah guru SMA sekaligus refreshing selama satu minggu.

          Baru satu hari di sana, aku mendapatkan sms dari Kepala Bagian Kemahasiswaan bahwa aku mendapatkan beasiswa dan segera mengurusi persyaratan untuk pencairan dana dan batas waktu pencairan dua hari lagi. Dengan segera aku mengurusi persyaratan tersebut walaupun mengalami berbagai permasalahan terutama masalah administrasi akhirnya aku dapat mencairkan dana beasiswa tersebut tepat di hari terakhir.

          Berasal dari uang beasiswalah aku dapat mengganti hutang-hutang akibat kecelakaan dan dapat membayar keuangan semester. Kemudian aku berpikir dari mana Kepala Bagian Kemahasiswaan dapat mengetahui nomer hp smartku. Lama aku berpikir dan baru ingat bahwa empat bulan yang lalu aku pernah mengisi formulir beasiswa dimana aku mencantumkan nomer hp smart di formulir tesebut.

          Subhanallah……… aku baru saja masuk dalam rencana Tuhan yang tidak pernah aku sadari. Seandainya saja kecelakaan itu tidak terjadi maka aku masih menggunakan hp telkomsel, dan mengakibatkan aku tidak pernah tahu apakah aku dapat beasiswa atau tidak, karena informasi tersebut dikirim melalui sms ke nomer-nomer yang tercantum di formulir.


          Ini kisah hape pertamaku, kini dia sudah betul-betul rusak dan tidak tahu dimana keberadaannya. Hp pertamaku memberikan kesan yang indah dalam kisah perjalanan hidupku.