SDN Sumber Salak |
Kehidupan sosial disana berjalan normal tanpa ada
komplektisitas keinginan yang berlebihan bila dibandingkan dengan warga kota dengan
komplektisitas kebutuhannya walaupun secara garis besar hal tersebut hanyalah
suatu keinginan nafsu belaka. Pelajaran sederhana adalah suatu pengalaman
penting yang didapatkan di desa ini hidup dengan segala keterbatasan secara
pemenuhan ekonomi, alam adalah saudara mereka yang bisu yang selalu menyuapi
kebutuhan mereka sehari-hari yang diproses melalui perkebunan, jika mereka
menginginkan hal yang lebih dari yang ada perjalanan jauh harus mereka tempuh
terlebih bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan biaya lebih harus mereka
keluarkan untuk melengkapi keinginannya.
anak-anak SD Sumber Salak yang sedang belajar di luar kelas |
Kesederhanaan mereka semakin lengkap dengan adanya
penerangan di rumah mereka yang berasal dari jenset, sehingga gelap gulitanya
malam dapat dihindari namun sungguh disayangkan pula sebuah titik cahaya harus
direnggut di angka 10 karena pada pukul 22.00 kegelapan yang ada di sekitar
desa tersebut demi menghemat penggunaan bahan bakar jenset [solar] bahkan
kegelapan ini masih terasa hingga adzan subuh terdengar maka sholat subuh di
tengah kegelapan adalah suatu hal yang biasabagi mereka.
Namun apakah kegelapan ini juga akan menimpa masa depan
mereka yang berproses di bangku pendidikan? di desa tersebut ada satu SDN SUMBER SALAK dimana
murid-muridnya berasal dari desa tersebut secara keseluruhan karena tidak
mungkin dari desa lain melihat dari lokasi desa ini berjauhan dari desa yang
lainnya. Adapun pengelola dari Sekolah Dasar tersebut yang sudah mendapatkan
anugerah dari pemerintah berupa sebutan Pegawai Negeri Sipil ini yang dipilih
oleh pemerintah yang berasal dari luar desa tersebut.
Ada beberapa keuntungan yang didapatkan dari keputusan
pemerintah ini yaitu suatu pembaharuan dimana sebuah pengalaman yang didapatkan
dari tempatnya berasal kemudian dibagikan dan riterapkan tentu bisa memberikan
dampak yang baik dalam penetuan suatu kebijakan yang baik untuk memberikan
terobosan baru untuk memperbaiki mutu pendidikan di Desa Sumber Salak. Mungkin
itulah pesan tersirat pemerintah untuk mengutus orang-orang luar yang dianggap
mampu membuat suatu pembaharuan terlebih hal tersebut berada di daerah yang
tertinggal tentu langkah tersebut menjadi suatu kebijakan yang baik secara
teori.
menunggu jam masuk mereka bermain bersama kuda |
Secara garis besar tetap kembali kepada personality
seseorang dimana jika dia menganggap suatu amanat adalah suatu pesan yang harus
disampaikan dan dipertanggungjawabkan sesuai pesan tersebut tentu tidaklah
menjadi permasalahan namun hal ini akan menjadi permasalahan yang penting
adalah ketika amanat tersebut sudah tidak sesuai dengan apa yang diamanatkan yang
memberikan suatu pertanyaan ingin kemankah anak-anak Desa Sumber Salak?.
“dia [pengelola sekolah] jarang datang ke sekolah
kadang-kadang hanya satu minggu satu kali atau malauh tidak, bahkan kalau sduah
musim penghujan dalam satu bulan tidak datang sama sekali, tentunya hal ini
berdampak ke murid-murid. Ya memang perjalanan ke sini jauh tapi yang namanya
tanggungjawab jadi harus dilaksanakan, kalau terus begitu sama saja makan gaji
buta”
ungkap bu kholik.
Sungguh malang mereka yang menuntut ilmu dengan semangat
telah menjadi korban tanpa terasa, maka alangkah lebih baiknya pengelola
sekolah tersebut berasal dari penduduk setempat yang lebih mngetahui dan
mengenal secara psikologis warga dan lingkungan setempat dan juga hal ini
menjadi lebih efisien dalam melakukan suatu pengawasan, sedangkan untuk suatu
kesetaraan pengajaran akademik bisa dilakukan dengan melakukan training bagi
guru-guru dan penyuluhan dari pemerintah.
Tulisan ini
merupakan salah satu contoh pendidikan yang ada di indonesia, walaupun dunia
pendidikan indonesia semakin berkembang bahkan banyak peminat-peminatnya dan
hal tersebut direspon dengan baik oleh pemerintah dimana jumlah PNS yang setiap tahunnya semakin bertambah
begitupun nominal gajinya, namun
hal tersebut perlu di evaluasi secara bijaksana pertama pendidikan di indonesia.
Dunia pendidikan
di Indonesia yang saat ini dapat dikatakan meroket, ternyata perlu dilakukan
suatu evaluasi, pertama, mengambil kesempatan dalam kesempitan mungkin istilah
ini yang tepat yang ditujukan kepada mereka-mereka yang mengambil keuntungan
pribadi dari kesulitan orang lain, dimana seringnya berganti kirikulum yang
disarankan oleh pemerintah, tentu ini memberikan suatu dampak yang baik apabila
dilihat secara sekilas karena dengan bergantinya kurikulum tentu telah
disesuaikan dengan perubahan zaman yang semakin cepat, namun di sisi lain tentu
hal ini sangat memberatkan bagi sekolah-sekolah yang berada di pedalaman atau
sekolah-sekolah miskin yang ada di pedesaan dimana mereka harus membeli
buku-buku baru setiap adanya perubahan terlebih harga-harga buku yang dijual
sangat mahal sehingga harus berpikir berulang kali untuk mebeli buku tersebut,
ataukah memang hal ini sudah diskenariokan dengan para penerbit buku pelajaran,
maka yang timbul adalah penggunaan buku-buku yang lama atau kurikulumnya sudah
dapat dikatakan kadarluasa maka dampaknya adalah ketika dilaksanakan ujian semester
dimana soal yang mereka terima berasal dari pemerintah daerah padahal
sebelumnya telah terjadi perubahan kerikulum sehingga materi soal yang mereka
terima berbeda dengan apa yang mereka pelajari sehari-hari apalagi ketika Ujian
Akhir Nasional (UAN), tapi untunglah sekarang nilai UAN tidak terlalu memberikan
pengaruh besar terhadap kelulusan siswa.
Guru bukanlah profesi melainkan sebagai
pengabdian, itulah ungkapan guruku Abdul Malik. Walaupun dikethui bahwa guru
juga manusia yang memiliki kebutuhan yang kompleks untuk melengkapi
kehidupannya namun perlu disadari pula bahwa yang salah adalah menjadikan guru
adalah suatu profesi sebagai lahan mengeruk keuntungan untuk menambah kekayaan,
sebagai contohnya adalah pemanfaatan uang siswa yang harus membeli fotokopi
soal ulangan harian dengan harga berlipat ganda yang seharusnya harganya
berkisar 100-200 rupiah bisa menjadi 1000, 2000 bahkan ada yang sampai 5000
yang tentunya semakin mencekik yang mereka ajari, memberikan segala atribut
yang tidak terlalu mempengaruhi kegiatan belajar mengajar dimana dia sendiri
yang menjual tentulah hal ini kan memberikan keuntungan di salah satu pihak
dengan alasan yang tidak logis. Kemudian dengan banyaknya peminat untuk menjadi
seorang guru dimana setiap berbincang dengan mereka yang menempuh keguruan
dimana tujuan yang mereka tuju adalah setelah lulus mereka dapat mengajar lalu
menjadi PNS dengan membincangkan gaji PNS yang semakin besar terlebih setelah
pensiun dia mendapatkan tunjangan.
Selanjutnya adalah sekolah-sekolah yang
berada di daerah pedalaman yang seharusnya mereka disupport secara lebih dengan
alasan memberantas kebodohan yang ada di pelosok yang dari gelap menjadi
setitik penerang, justru hal tersebut berkebalikan dimana sekolah-sekolah besar
yang berada di kota yang membuat sebuah lampu menjadi sedikit lebih terang
mendapatkan support yang tinggi dari pemerintah padahal secara independen
mereka mampu membiayai keseluruhannya. Ungkapan
bangga untuk guru-guru yang aku anggap adalah guru yang sesungguhnya yang
membela anak-anak yang berada jauh dari keramaian kota atas kebijakan penyetaraan
Ujian Akhir Nasional.
Semoga pendidikan di Indonesia dibawa ke
arah yang yang lebih baik dengan meningkatnya kesadaran pentingnya pendidikan
bagi seluruh warga Indonesia baik yang berada di pedalaman dan di kota, dengan
perkembangan yang diikuti kualitas yang setara dengan apa yang telah dikorbankan.