BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Kerajaan
Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan
Banyuwangi. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo.
Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai
kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa.
Sebelum
menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah Kerajaan Bali. Usaha
penaklukan kerajaan Mataram Islam terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah
yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak
pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini
memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali
juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah
Blambangan.[1]
Diantara beberapa raja dari kerajaan Blamabangan yaitu
Menakjinggo, ada beberapa versi yang menjelaskan tentang Minkajinggo atau
kisahnya, namun esensi dari cerita tersebut adalah suatu penyerangan terhadap
Majapahit. Dimana keduanya telah menjalin hubungan konflik, namun mencapai
puncaknya adalah isu dari hasrat Menakjinggo yang ingin menikahi Putri
Majapahit yaitu Kencanawungu.
Namun hal itu menjadi sebelah tangan sehingga membuat
Minakjnggo menjadi geram sehingga Menakjinggo berencana unukmenyerang
Majapahit, namun hal tersebut sia-sia akhirnya Majapahit mengadakan saimbara
bagi siapa saja yang dapat mengalahkan Menakjinggo akan diberi hadiah yaitu
menikah dengan Kencanawungu. Singkat cerita Menakjinggo dapat terkalahkan oleh
Damarwulan yang mana adalah salah satu peserta dari saimbara tersebut.
Minakjinggo disinyalir adalah Bhre Wirabumi yang
dikisahkan sebagai salah satu peserta Perang Paregreg.[2] Apapun dan bagaimanpun cerita atau kisah dari
Minakjinggo adalah pahlawan bagi orang Banyuwangi, walaupun dalam kisahna dia
memiliki peran sebagai antagonis. Cerita tersebut hanyalah cerita yang diambil
dari kisah damarwulan dimana hal tersebut beum bisa dikatakan sebagai acuan
dari kisah tersebut.
1.1. Rumusan Masalah
Pada
tulisan ini hanya sedikit masalah yang dijelaskan mengenai Kerajaan atau lebih
spesifiknya adalah Menakjinggo, adapun masalah yang membatasi dari tulisan ini
adalah:
1.
Asal-usul kerajaan
Blambangan?
2.
Bagaimana kisah
dari Menakjinggo?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Istana Timur
Majapahit
Untuk melacak sejarah kemunculan Kerajaan
Blambangan diakui cukup sulit. Minimnya data dan fakta membuat para ilmuwan
kesukaran untuk menentukan sejarah awal kerajaan ini. Namun, bila kita
memetakan sejarah awal Majapahit pada masa Sri Nata Sanggramawijaya alias Raden
Wijaya, maka sedikit celah akan terkuak bagi kita guna menuju pencarian awal
mula Blambangan.
Pelacakan ini bisa dimulai dari peristiwa larinya
Sanggramawijaya (R. Wijaya) dan kawan-kawan ke Songeneb (kini Sumenep) di
Madura guna meminta bantuan kepada Arya Wiraraja dalam usaha menjatuhkan
Jayakatwang yang telah menggulingkan Kertanagara di Singasari. Menurut Pararaton,
Raden Wijaya berjanji, bahwa jika Jayakatwang berhasil dijatuhkan, kelak
kekuasaannya akan dibagi dua, satu untuk dirinya, satu lagi untuk Arya
Wiraraja. Arya Wiraraja ini ketika muda merupakan pejabat di Singasari, yang
telah dikenal baik oleh Raden Wijaya yang tak lain menantu dan keponakan
Kertanagara.
Ketika Raden Wijaya berhasil mendirikan Majapahit
tahun 1293, Arya Wiraraja diberi jabatan sebagai pasangguhan dengan gelar
Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Namun, rupanya Wiraraja pada tahun
1296 sudah tidak menjabat lagi, hal ini sesuai dengan isi Prasasti Penanggungan
yang tak mencatat namanya. Muljana menjelaskan bahwa penyebab menghilangnya
nama Wiraraja dari jajaran pemerintahan Majapahi karena pada 1395, salah satu
putranya bernama Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan lalu tewas. Peristiwa
ini membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri, seraya menuntut janji
kepada Raden Wijaya mengenai wilayah yang dulu pernah dijanjikan. Pada 1294,
raja pertama Majapahit itu mengabulkan janjinya dengan memberi Wiraraja wilayah
Majapahit sebelah timur yang beribukota di Lamajang (kini Lumajang).
Babad Raja Blambangan memberi tahu kita bahwa wilayah Lumajang yang
diberikan pada Arya Wiraraja adalag berupa hutan, termasuk Gunung Brahma (kini
Gunung Bromo) hingga tepi timur Jawi Wetan (Jawa Timur), bahkan hingga Selat
Bali (”Wit prekawit tanah Lumajang seanteron ipun kedadosaken tanah
Blambangan”). Menurut teks Babad Raja Blambangan, Arya Wiraraja
memerintah di Blambangan sejak 1294 hingga 1301. Ia digantikan putranya, Arya
Nambi, dari 1301 sampai 1331. Setelah Nambi terbunuh karena intrik politik pada
1331, takhta Kerajaan Blambangan kosong hingga 1352. Yang mengisi kekosongan
ini adalah Sira Dalem Sri Bhima Chili Kapakisan, saudara tertua Dalem Sri Bhima
Cakti di Pasuruan, Dalem Sri Kapakisan di Sumbawa, dan Dalem Sri Kresna
Kapakisan di Bali.
Kesaksian Babad Raja Blambangan
berkesesuaian dengan apa yang tertulis pada Pararaton. Dikisahkan, pada
1316 Nambi, seorang pengikut setia Raden Wijaya sekaligus Patih Amamangkubhumi
Majapahit yang pertama, memberontak pada masa pemerintahan Jayanagara, seperti
yang dijelaskan Pararaton. Riwayat lain, yakni Kidung Sorandaka,
menceritakan pemberontakan Nambi terjadi setelah kematian ayahnya yang bernama
Pranaraja (sementara Kidung Harsawijaya menyebut ayah Nambi adalah
Wiraraja). Pararaton mengisahkan, Nambi tewas dalam benteng pertahanannya
di Desa Rabut Buhayabang, setelah dikeroyok oleh Jabung Tarewes, Lembu Peteng,
dan Ikal-Ikalan Bang. Sebelumnya, benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan
yang dibangun Nambi, dapat dihancurkan oleh pasukan Majapahit. Akhirnya Nambi
sekeluarga tewas dalam peperangan itu. Menurut Nagarakretagama, yang
memimpin penumpasan Nambi adalah Jayanagara sendiri. Dalam peristiwa ini, jelas
Nambi berada di Lumajang dan dibantu oleh pasukan Majapahit Timur, wilayah yang
menjadi kekuasaan Wiraraja. Namun belum jelas, apakah Wiraraja masih hidup saat
peristiwa Nambi berlangsung.
Pemaparan di atas, dalam upaya menjelaskan
keberadaan Blambangan, tentu belum dirasakan memuaskan, karena walau bagaimana
pun, semua data di atas tak menyebutkan nama Blambangan. Untuk itu, kita
langkahkan lagi penelesuran kita ke masa yang lebih kemudian, yakni masa Perang
Paregreg, peperangan antara “Keraton Barat” versus “Keraton Timur” di wilayah
Majapahit.[3]
2.2. Letak Istana
Membicarakan
letak istana Blambangan
tentu tak mudah. Hal ini, pertama, dikarenakan pusat kerajaan ini
berpindah-pindah. Bila kita menetapkan bahwa pus`t pemerintahan pertama
kerajaan Blambangan adalah Lumajang lalu Panarukan, maka sepatutnya kita
menelusuri jejak-jejak budaya di dua kota tersebut. Namun, sejauh ini, belum
ada temuan yang bisa menuntun kita ke arah sana. Maka dari itu, penelusuran
kita alihkan ke arah yang lebih timur atau tenggara, tepatnya ke Banyuwangi.
Masyarakat
yang mengatasnamakan Forum Penyelamat Situs Macan Putih pernah melakukan
penggalian di 17 titik, namun kegiatan itu tak sampai rampung. Walau begitu,
bukannya tak ada bukti sama sekali mengenai bangunan pada masa Kerajaan
Blambangan ini. Warga sekitar Desa Macan Putih masih sering menemukan sisa-sisa
batu bata yang diperkirakan bekas bangunan kerajaan, berukuran dua kali lebih
besar dibanding ukuran batu bata saat ini. Mengenai fungsi dari sisa-sisa batu
bata itu masih belum jelas, apakah sebagai pagar keraton, benteng, atau dinding
keraton. Yang bisa dipastikan, batu-batu itu berasal dari masa prakolonial
Belanda.
Selain
di Desa Agung Macan Putih, ada pula Situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo,
Kecamatan Muncar, yang dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan atau
benteng kerajaan yang memiliki panjang sekitar 5 km. Di dalam situs ini
terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah.
Kesembilan batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau
penyangga, karena itulah situs ini dinamakan Umpak Songo (Sembilan Penyangga).
Ketika ditemukan, situs ini terpendam pada kedalaman 1 – 0,5 m dari permukaan
tanah, membentang dari Masjid Pasar Muncar hingga area persawahan Desa
Tembokrejo. Diduga, benteng atau istana ini merupakan peninggalan Blambangan
pada saat ibukota pindah ke Muncar.
Bangunan
lain yang merupakan peninggalan Kerajaan Blambangan pada periode Muncar adalah
Siti Hinggil (Setinggil) yang bermakna “Tanah yang Ditinggikan” (siti
adalah tanah, hinggil/inggil adalah tinggi). Siti Hinggil ini berada di
sebelah timur pertigaan Pasar Muncar. Fungsi Siti Hinggil adalah sebagai pos
pengawasan VOC untuk memata-matai musuh dari kerajaan-kerajaan Bali yang akan
melakukan penyerangan, yakni berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan
batu tebing guna mengawasi keadaan di sekitar Teluk Pangpang. Jarak Sitihinggil
ini dari Situs Umpak Songo cukup ditempuh dalam waktu 10 menit ke arah timur.
Ada
pula kolam dan sebuah sumur kuno yang ditemukan di sekitar Pura Agung Blambangan,
yakni di Desa Tembok Rejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Beberapa
benda peninggalan sejarah Blambangan yang lainnya terdapat di Museum Daerah
berupa guci dan asesoris gelang lengan.
2.3. Blambangan dalam
Roman Damarwulan-Minakjinggo
Sebagian
dari kita tentu tahu kisah berjenis Panji berjudul Damarwulan-Minakjinggo.
Kisah Minakjinggo anatara nyata atau tidak namun kisah tersebut telah menjadi
mitos di kalangan masayrakat Banyuwangi[4].
Tokoh dengan yang diperankan sebagai peran antagonis ini memiliki wajah yang
garang. Kisah tersebut mengungkapkan perseteruan antar dua
kerajaan, yang satu sebuah kerajaan besar bernama Majapahit, yang satu lagi
kerajaan yang tak pernah tunduk terhadap hegemoni kerajaan besar itu, yakni
Kerajaan Blambangan[5].
Perseteruan ini melahirkan Perang Paregreg.
Kerajaan
Blambangan terletak di timur Kota Banyuwangi di Jawa Timur. Bila kita melihat
peta, letak Blambangan berbatasan langsung dengan Selat Bali, dengan begitu
kita yakin bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan pesisir. Bila melihat namanya,
Blambangan berasal dari kata bala yang artinya “rakyat” dan ombo
yang artinya “besar” atau “banyak”. Dengan begtu, kita dapat pahami bahwa
Blambangan adalah “kerajaan yang rakyatnya cukup banyak”.
Tak
ada berita yang pasti sejak kapan kerajaan ini berdiri. Dari kisah Damarwulan-Minakjinggo
diketahui bahwa pada masa Majapahit kerajaan ini telah ada dan berdaulat. Namun
demikian, ada beberapa sumber yang memuat nama Blambangan, yakni Serat Kanda
(ditulis abad ke-18), Serat Damarwulan (ditulis pada 1815), dan Serat
Raja Blambangan (ditulis 1774), di mana proses penulisannya dilakukan jauh
setelah masa kejayaan Blambangan, yakni ketika masa Mataram-Islam dan kekuasaan
Kompeni Belanda di Jawa tengah relatif kukuh. Di samping mengacu kepada sumber
berjenis sekunder seperti ketiga serat tadi, kita masih memiliki sumber primer
yang bisa dikaitkan dengan keberadaan Blambangan, yakni Pararaton, yang
meski tak menyebutkan nama Blambangan namun kemunculan nama Arya Wiraraja dan
Lamajang akan membantu kita menyibakkan kabut yang menyelimuti sejarah awal
Kerajaan Blambangan.[6]
Muljana
menulis bahwa cerita roman Damarwulan dan Minakjinggo muncul setelah
meletusnya Perang Paregreg yang terjadi pada 1406. Perang inilah yang
menginspirasi sastrawan Jawa yang membuat kisah Damarwulan-Minakjinggo.
Tak terhitung sudah berapa kali kisah Damarwulan-Minakjinggo dipentaskan
dalam seni sendratari, ketoprak, dan teater.
Kisah
Damarwulan-Minakjinggo sendiri tercatat sedikitnya dalam tiga buah
serat: Serat Kanda, Serat Damarwulan, dan Serat Blambangan.
Penulis Serat Kanda, yakni sastrawan keraton Yogya, menurut Muljana, tak
mengetahui pasti fakta-fakta sejerah seputar Perang Paregreg. Maka dari itu,
cukup beresiko pula bila kita menghubungkan kisah Damarwulan-Minakjinggo
ini dengan peristiwa Paregreg. Apalagi semua serat itu ditulis pada masa
kerajaan Islam, berabad kemudian setelah peristiwa berlangsung.
Dikisahkan,
penguasa Blambangan bernama Minakjinggo[7]
ingin mempersunting Ratu Majapahit Kenya Kencanawungu.[8] Ia
menaikkan statusnya, dari adipati menjadi raja Blambangan dengan gelar Prabu
Urubisma. Sang Ratu yang tak ingin diperistri oleh Minakjinggo yang sudah memiliki tiga orang istri yaitu
Dewi Juwitawati, Dewi Juwitaningsih dan Dewi Juwitaningrum[9]. Tentunya
Ratu Kencanawungu menolak lamaran tersebut secara tegas.
Penolakan
teersebut tentunya dianggap sebagi penorengan terhadap Menakjinggo maka
Menakjinggo melakukan suatu pemberontakan terhadap kerajaan pusatnya yaitu
kerajaan Majapahit. Tentunya hal tersebut membuat sang Ratu meresa risau
terhadap pemberontakan yang dilancarkan oleh Menakjinggo. Maka dia meminta
bantuan kepada pamannya yang berada di Tuban yaitu Adipati Ranggalawe.
Mengetahui
bahwa keponaknnya berada dalam masalah besar, tentu Adipati Ranggalawe tidak
hanya berdiam diri kemudian dia menyiapkan pasukaanya untuk melakukan
penyerangan. Akhirnya pertemuan muka antara Menakjinggo dengan Ranggalawe di
Probolinggo dimana pada waktu itu probolinggo dijadikan tempat peristirahatan
Menakjinggo sementaran selama menjalani pemberontakan melwan Majapahit dan
menghacurkan pasukan-pasukan yang menghadangnya selam perjalanannya, termasuk
Layangseta dan Layangkumitir sempat melakukan penghadangan.
Awalnya
Menakjinggo tidak ingin turun tangan untuk menghadapi Ranggalawe namun melihat
banyak prajurit dan patihnya yang terbunuh sehingga membuat dia menjadi sangat
marah dan akhirnya turun ke medan. Terjadilah pertempuran secara langsung
antara Menakjinggo dan Ranggalawe dimana pada duel satu lawan satu menakjinggo mengalami kekalahan hingga
akhirnya Menakjinggo menyruh semua pasukannya untuk memanahi Ranggalawe,
akhirnya Ranggalawe pun meninggal di tempat.[10]
Berita
kematian Adipati Tuban Ranggalawe sampai di Kerajaan Majapahit. Mengetahui hal
tersebut tentulah Dewi Kenanawungu tidak hanya berdiam diri, maka dengan kepala
dingin dia Sang Ratu mengambil tindakan untuk mengadakan sayembara: barang
siapa yang bisa mengalahkan Minakjinggo, ia akan diberi hadiah berlimpah. Raja
Minakjinggo pun mengobrak-abrik Majapahit dengan Gada Wesi Kuningnya. Sebelum
ke Majapahit, pasukan Blambangan menyerang Lumajang; bahkan dikirim pula utusan
ke Ternate untuk diminta bantuan oleh Minakjingo. Para prajurit dan pejabat
Majapahit banyak yang gugur, termasuk Ranggalawe. Tatkala situasi tak menentu
ini, datanglah Damarwulan. Damarwulan adalah putra dari Patih Majapahit bernama
Udara. Setelah dewasa ia mengabdi kepada pamannya, Patih Loh Gender di
Majapahit, bekerja sebagai tukang rumput. Putri sang Patih, Dewi Anjasmara,
terpikat pada Damarwulan.
Mengetahui
bahwa keadaan Kerajaan sangat genting sehingga Dewi Anjasmarapun mengizinkan
suaminya untuk pergi melawan Menakjinggo. Kemudian dia meminta kakaknya Layang
Seta dan Layang Kumitir untuk mendapinginya selama perjalanan, kemudian ketika
dia melakukan penyusupan ke tempat Menakjinggo, ternyata dia tidak ada namun di
tempat tersebut ada ketiga istri dari Menakjinggo yang sedang bercengkrama,
namun akhirnya penyusupan tersebut diketahui namun karena ketampanan Damarwulan
sehingga membuat ketiga wanita tersebut jatuh hati kepadanya, atas rayuan
Damarwulan yang menjajikan akan meperistri dengan syarat membantunya dalam
mengalahkan Menakjinggo.[11]
Singkat
cerita, Damarwulan menghadap Kencanawungu dan diangkat menjadi panglima
Majapahit. Ratu Majapahit Menyuruh Damarwulan dan Setrokumitir memerangi
Minakjinggo. Orang Blambangan sudah terkalahkan oleh Damarwulan namun
Minakjinggo tetap tidak terkalahkan. Akhirnya Damarwulan berhasil mencuri wesikunig bersama istri dari minakjinggo
itu sendiri yang telah memberitahukan rahasia dari kekebalan Minakjinggo. Maka
dengan wesikuning tadi Damarwulan
dapat membunuh Minakjinggo.[12]
Kemudian memenggal kepalanya sebagai bukti kepada Ratu kencanawungu.
Damarwulan
membawa kepala Minakjinggo ke Majapahit. Namun, di tengah jalan ia dikhianati
oleh dua orang anak Loh Gender, yakni Layang Seta dan Layang Kumitir, yang
mengaku sebagai utusan Ratu Kencanawungu. Tanpa curiga, kepala Minakjinggo
diserahkan oleh Damarwulan. Layang Seto dan Layang Kumitir pun dianggap
pahlawan oleh ratu dan rakyat Majapahit. Namun, akhirnya kedok mereka berdua
terkuak[13], Damarwulan
pun menikah dengan Kencanawungu dan menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu
Mertawijaya.
Raffles
menulis bahwa pada abad ke-19 cerita Damarwulan-Minakjingo merupakan
cerita favorit orang Jawa dan kerap dipentaskan dalam bentuk wayang klitik
(wayang dari kayu dengan tinggi 10 inci) dan wayang beber (sosok wayang
digambar pada lembaran kertas yang keras di mana dalang memberikan dialog).
Sebagian
masyarakat percaya bahwa Ratu Kencanawungu merupakan perwujudan sosok Ratu
Suhita, sedangkan Minakjinggo adalah Bhre Wirabhumi. Pandangan ini tentu
bersifat ahistoris dan memang bertolak belakang dengan kajian di lapangan
(misalnya terdapat nama Ranggalawe sebagai Adipati Tuban, yang seharusnya hidup
pada masa Sanggramawijaya). Akan tetapi, terlepas dari sifatnya yang sastrawi,
ada satu hal yang perlu diperhatikan mengenai kisah roman ini: keberpihakan
para penulis serat tersebut sangat terasa, yakni berpihak kepada pihak yang
menang (Majapahit, yang diwakili oleh sosok Damarwulan) dan seolah-olah
memperolok pihak yang kalah, yakni Blambangan yang diwakili oleh sosok
Minakjinggo. Karena dalam seni Banyuwangi dan Janger, sosok Minakjinggo
ditampilkan dengan wajah rupawan dan ia memberontak karena Ratu Kencanawungu
membatalkan rencananya untuk dinikahi oleh Minakjinggo.
Dan
tentu: serat-serat tersebut dibuat untuk mengukuhkan pengetahuan masyarakat
awam bahwa raja atau sultan Mataram-Islam (juga Pajang dan Demak) merupakan keturunan
raja-raja Majapahit, dan dengan begitu mereka merasa lebih percaya diri untuk
membangun kekuasaan mereka. Sang Ratu mengambil tindakan untuk mengadakan
sayembara: barang siapa yang bisa mengalahkan Minakjinggo, ia akan diberi
hadiah berlimpah dan menjadi suaminya. Dan hal itu dapat dijawab oleh
Damarwulan.
BAB
III
KESIMPULAN
Kerajaan
Blambangan terletak di timur Kota Banyuwangi di Jawa Timur. Bila kita melihat
peta, letak Blambangan berbatasan langsung dengan Selat Bali, dengan begitu
kita yakin bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan pesisir. Bila melihat namanya,
Blambangan berasal dari kata bala yang artinya “rakyat” dan ombo
yang artinya “besar” atau “banyak”. Dengan begtu, kita dapat pahami bahwa
Blambangan adalah “kerajaan yang rakyatnya cukup banyak”.
Dikisahkan, penguasa Blambangan
bernama Minakjinggo ingin mempersunting Ratu Majapahit Kenya Kencanawungu. Ia
menaikkan statusnya, dari adipati menjadi raja Blambangan dengan gelar Prabu
Urubisma. Sang Ratu yang tak ingin diperistri oleh Minakjinggo yang sudah memiliki tiga orang istri yaitu
Dewi Juwitawati, Dewi Juwitaningsih dan Dewi Juwitaningrum. Tentunya Ratu
Kencanawungu menolak lamaran tersebut secara tegas.
DAFTAR
PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/
wiki/Kerajaan_Blambangan diunduh pada tanggal 4
April 2012.
Kerajaan
Blambangan diunduh dari http://Kerajaan%20Blambangan
%20%20%20 Permata%20Bangsa.htm pada tanggal 28 Maret 2011.
Melawan Mitos Minak Jinggo.
Diunduh dari http://hasansentot2008. blogdetik.com/
2011/03/14/melawan-mitos-menak-jinggo/ pada tanggal 4 April 2012.
R.
Rangga Prawiradirja(terj). Serat
Damarwulan. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 1982.
S.Z.
Hadisutjipto(terj). Langendariya
Ranggalawe. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982.
Sejarah Banyuwangi- Blambangan. Diunduh dari http://livebeta.kaskus.us/
thread/ 00000000000000 0001146576/ share-sejarah-amp-budaya-banyuwangi---blambangan pada
tanggal 4 April 2012.
Sejarah Kerajaan
Blambangan diunduh dari file:///E:/SEJARAH%20
KERAJAAN%20 BLAMBANGAN% 20%C2% AB%20O singkertarajasa.htm
pada tanggal 28 Maret 2012.
Soemarsono(terj).
Langen Driya: Penjahipun Menak Jingga.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982.
Winarsih Partaningrat Arifin. Babad Blambangan. Yayasan
Bentang. 1995.
[1] Sejarah
Banyuwangi- Blambangan. Diunduh dari http://livebeta.kaskus.us/thread/ 00000000000000 0001146576/ share-sejarah-amp-budaya-banyuwangi---blambangan pada
tanggal 4 April 2012.
[2] Perang
paregreg disinyalir adalah sebagai perang saudara antara Bhre Wirabhumi dengan
saudaranya Wikrawardhana yang erujung kekelahan di pihak Bhre Wirabhumi, dan
juga secara perlahan memberikan pengaruh terhadap runtuhnya kerajaan Majapahit.
[3] Sejarah Kerajaan Blambangan diunduh dari file:///E:/SEJARAH%20KERAJAAN%20
BLAMBANGAN%20%C2% AB%20Osingkertarajasa.htm pada tanggal 28 Maret
2012.
[4] Melawan
Mitos Minak Jinggo. Diunduh
dari http://hasansentot2008.blogdetik.com/
2011/03/14/melawan-mitos-menak-jinggo/ pada tanggal 4 April 2012.
[5] Dikatakan bahawa
Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir yang berada di pulau
jawa. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Blambangan diunduh
pada tanggal 4 April 2012.
[6] Kerajaan Blambangan diunduh dari http://Kerajaan%20Blambangan%20%20%20
Permata%20Bangsa.htm pada tanggal 28 Maret 2011.
[7] Minakjinggo yang
disinyalir adalah Bhre Wirabhumi merupakan salah satu penguasa dari kebijakan
pembagian wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam
Wuruk di Blambangan. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit diunduh
pada tahnggal 4 april 2012.
[8] Dewi Kencanawungu merupakan
Raja dari kerajaan Majapahit yang menggantikan ayahnya Prabu Brawijaya I. lihat
R. Rangga Prawiradirja(terj). Serat
Damarwulan. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982) hlm. 7.
[9] Soemarsono(terj). Langen Driya: Penjahipun Menak Jingga.
(Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982) hlm. 12.
[10] S.Z. Hadisutjipto(terj). Langendariya Ranggalawe. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. 1982) hlm. 13-16.
[11] Soemarsono(terj). Op cit. 13-14.
0 comments:
Posting Komentar