Pages

Subscribe:

Sabtu, 19 Mei 2012

PEMBERONTAKAN MENAKJINGGO TERHADAP MAJAPAHIT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa.
Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah Kerajaan Bali. Usaha penaklukan kerajaan Mataram Islam terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah Blambangan.[1]
Diantara beberapa raja dari kerajaan Blamabangan yaitu Menakjinggo, ada beberapa versi yang menjelaskan tentang Minkajinggo atau kisahnya, namun esensi dari cerita tersebut adalah suatu penyerangan terhadap Majapahit. Dimana keduanya telah menjalin hubungan konflik, namun mencapai puncaknya adalah isu dari hasrat Menakjinggo yang ingin menikahi Putri Majapahit yaitu Kencanawungu.
Namun hal itu menjadi sebelah tangan sehingga membuat Minakjnggo menjadi geram sehingga Menakjinggo berencana unukmenyerang Majapahit, namun hal tersebut sia-sia akhirnya Majapahit mengadakan saimbara bagi siapa saja yang dapat mengalahkan Menakjinggo akan diberi hadiah yaitu menikah dengan Kencanawungu. Singkat cerita Menakjinggo dapat terkalahkan oleh Damarwulan yang mana adalah salah satu peserta dari saimbara tersebut.
Minakjinggo disinyalir adalah Bhre Wirabumi yang dikisahkan sebagai salah satu peserta  Perang Paregreg.[2]  Apapun dan bagaimanpun cerita atau kisah dari Minakjinggo adalah pahlawan bagi orang Banyuwangi, walaupun dalam kisahna dia memiliki peran sebagai antagonis. Cerita tersebut hanyalah cerita yang diambil dari kisah damarwulan dimana hal tersebut beum bisa dikatakan sebagai acuan dari kisah tersebut.

1.1. Rumusan Masalah
            Pada tulisan ini hanya sedikit masalah yang dijelaskan mengenai Kerajaan atau lebih spesifiknya adalah Menakjinggo, adapun masalah yang membatasi dari tulisan ini adalah:
1.      Asal-usul kerajaan Blambangan?
2.      Bagaimana kisah dari Menakjinggo?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Istana Timur Majapahit
Untuk melacak sejarah kemunculan Kerajaan Blambangan diakui cukup sulit. Minimnya data dan fakta membuat para ilmuwan kesukaran untuk menentukan sejarah awal kerajaan ini. Namun, bila kita memetakan sejarah awal Majapahit pada masa Sri Nata Sanggramawijaya alias Raden Wijaya, maka sedikit celah akan terkuak bagi kita guna menuju pencarian awal mula Blambangan.
Pelacakan ini bisa dimulai dari peristiwa larinya Sanggramawijaya (R. Wijaya) dan kawan-kawan ke Songeneb (kini Sumenep) di Madura guna meminta bantuan kepada Arya Wiraraja dalam usaha menjatuhkan Jayakatwang yang telah menggulingkan Kertanagara di Singasari. Menurut Pararaton, Raden Wijaya berjanji, bahwa jika Jayakatwang berhasil dijatuhkan, kelak kekuasaannya akan dibagi dua, satu untuk dirinya, satu lagi untuk Arya Wiraraja. Arya Wiraraja ini ketika muda merupakan pejabat di Singasari, yang telah dikenal baik oleh Raden Wijaya yang tak lain menantu dan keponakan Kertanagara.
Ketika Raden Wijaya berhasil mendirikan Majapahit tahun 1293, Arya Wiraraja diberi jabatan sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Namun, rupanya Wiraraja pada tahun 1296 sudah tidak menjabat lagi, hal ini sesuai dengan isi Prasasti Penanggungan yang tak mencatat namanya. Muljana menjelaskan bahwa penyebab menghilangnya nama Wiraraja dari jajaran pemerintahan Majapahi karena pada 1395, salah satu putranya bernama Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan lalu tewas. Peristiwa ini membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri, seraya menuntut janji kepada Raden Wijaya mengenai wilayah yang dulu pernah dijanjikan. Pada 1294, raja pertama Majapahit itu mengabulkan janjinya dengan memberi Wiraraja wilayah Majapahit sebelah timur yang beribukota di Lamajang (kini Lumajang).
Babad Raja Blambangan memberi tahu kita bahwa wilayah Lumajang yang diberikan pada Arya Wiraraja adalag berupa hutan, termasuk Gunung Brahma (kini Gunung Bromo) hingga tepi timur Jawi Wetan (Jawa Timur), bahkan hingga Selat Bali (”Wit prekawit tanah Lumajang seanteron ipun kedadosaken tanah Blambangan”). Menurut teks Babad Raja Blambangan, Arya Wiraraja memerintah di Blambangan sejak 1294 hingga 1301. Ia digantikan putranya, Arya Nambi, dari 1301 sampai 1331. Setelah Nambi terbunuh karena intrik politik pada 1331, takhta Kerajaan Blambangan kosong hingga 1352. Yang mengisi kekosongan ini adalah Sira Dalem Sri Bhima Chili Kapakisan, saudara tertua Dalem Sri Bhima Cakti di Pasuruan, Dalem Sri Kapakisan di Sumbawa, dan Dalem Sri Kresna Kapakisan di Bali.
Kesaksian Babad Raja Blambangan berkesesuaian dengan apa yang tertulis pada Pararaton. Dikisahkan, pada 1316 Nambi, seorang pengikut setia Raden Wijaya sekaligus Patih Amamangkubhumi Majapahit yang pertama, memberontak pada masa pemerintahan Jayanagara, seperti yang dijelaskan Pararaton. Riwayat lain, yakni Kidung Sorandaka, menceritakan pemberontakan Nambi terjadi setelah kematian ayahnya yang bernama Pranaraja (sementara Kidung Harsawijaya menyebut ayah Nambi adalah Wiraraja). Pararaton mengisahkan, Nambi tewas dalam benteng pertahanannya di Desa Rabut Buhayabang, setelah dikeroyok oleh Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang. Sebelumnya, benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan yang dibangun Nambi, dapat dihancurkan oleh pasukan Majapahit. Akhirnya Nambi sekeluarga tewas dalam peperangan itu. Menurut Nagarakretagama, yang memimpin penumpasan Nambi adalah Jayanagara sendiri. Dalam peristiwa ini, jelas Nambi berada di Lumajang dan dibantu oleh pasukan Majapahit Timur, wilayah yang menjadi kekuasaan Wiraraja. Namun belum jelas, apakah Wiraraja masih hidup saat peristiwa Nambi berlangsung.
Pemaparan di atas, dalam upaya menjelaskan keberadaan Blambangan, tentu belum dirasakan memuaskan, karena walau bagaimana pun, semua data di atas tak menyebutkan nama Blambangan. Untuk itu, kita langkahkan lagi penelesuran kita ke masa yang lebih kemudian, yakni masa Perang Paregreg, peperangan antara “Keraton Barat” versus “Keraton Timur” di wilayah Majapahit.[3]

2.2. Letak Istana
Membicarakan letak istana Blambangan tentu tak mudah. Hal ini, pertama, dikarenakan pusat kerajaan ini berpindah-pindah. Bila kita menetapkan bahwa pus`t pemerintahan pertama kerajaan Blambangan adalah Lumajang lalu Panarukan, maka sepatutnya kita menelusuri jejak-jejak budaya di dua kota tersebut. Namun, sejauh ini, belum ada temuan yang bisa menuntun kita ke arah sana. Maka dari itu, penelusuran kita alihkan ke arah yang lebih timur atau tenggara, tepatnya ke Banyuwangi.
Masyarakat yang mengatasnamakan Forum Penyelamat Situs Macan Putih pernah melakukan penggalian di 17 titik, namun kegiatan itu tak sampai rampung. Walau begitu, bukannya tak ada bukti sama sekali mengenai bangunan pada masa Kerajaan Blambangan ini. Warga sekitar Desa Macan Putih masih sering menemukan sisa-sisa batu bata yang diperkirakan bekas bangunan kerajaan, berukuran dua kali lebih besar dibanding ukuran batu bata saat ini. Mengenai fungsi dari sisa-sisa batu bata itu masih belum jelas, apakah sebagai pagar keraton, benteng, atau dinding keraton. Yang bisa dipastikan, batu-batu itu berasal dari masa prakolonial Belanda.
Selain di Desa Agung Macan Putih, ada pula Situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, yang dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan atau benteng kerajaan yang memiliki panjang sekitar 5 km. Di dalam situs ini terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah. Kesembilan batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau penyangga, karena itulah situs ini dinamakan Umpak Songo (Sembilan Penyangga). Ketika ditemukan, situs ini terpendam pada kedalaman 1 – 0,5 m dari permukaan tanah, membentang dari Masjid Pasar Muncar hingga area persawahan Desa Tembokrejo. Diduga, benteng atau istana ini merupakan peninggalan Blambangan pada saat ibukota pindah ke Muncar.
Bangunan lain yang merupakan peninggalan Kerajaan Blambangan pada periode Muncar adalah Siti Hinggil (Setinggil) yang bermakna “Tanah yang Ditinggikan” (siti adalah tanah, hinggil/inggil adalah tinggi). Siti Hinggil ini berada di sebelah timur pertigaan Pasar Muncar. Fungsi Siti Hinggil adalah sebagai pos pengawasan VOC untuk memata-matai musuh dari kerajaan-kerajaan Bali yang akan melakukan penyerangan, yakni berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan batu tebing guna mengawasi keadaan di sekitar Teluk Pangpang. Jarak Sitihinggil ini dari Situs Umpak Songo cukup ditempuh dalam waktu 10 menit ke arah timur.
Ada pula kolam dan sebuah sumur kuno yang ditemukan di sekitar Pura Agung Blambangan, yakni di Desa Tembok Rejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Beberapa benda peninggalan sejarah Blambangan yang lainnya terdapat di Museum Daerah berupa guci dan asesoris gelang lengan.

2.3. Blambangan dalam Roman Damarwulan-Minakjinggo
Sebagian dari kita tentu tahu kisah berjenis Panji berjudul Damarwulan-Minakjinggo. Kisah Minakjinggo anatara nyata atau tidak namun kisah tersebut telah menjadi mitos di kalangan masayrakat Banyuwangi[4]. Tokoh dengan yang diperankan sebagai peran antagonis ini memiliki wajah yang garang. Kisah tersebut mengungkapkan perseteruan antar dua kerajaan, yang satu sebuah kerajaan besar bernama Majapahit, yang satu lagi kerajaan yang tak pernah tunduk terhadap hegemoni kerajaan besar itu, yakni Kerajaan Blambangan[5]. Perseteruan ini melahirkan Perang Paregreg.
Kerajaan Blambangan terletak di timur Kota Banyuwangi di Jawa Timur. Bila kita melihat peta, letak Blambangan berbatasan langsung dengan Selat Bali, dengan begitu kita yakin bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan pesisir. Bila melihat namanya, Blambangan berasal dari kata bala yang artinya “rakyat” dan ombo yang artinya “besar” atau “banyak”. Dengan begtu, kita dapat pahami bahwa Blambangan adalah “kerajaan yang rakyatnya cukup banyak”.
Tak ada berita yang pasti sejak kapan kerajaan ini berdiri. Dari kisah Damarwulan-Minakjinggo diketahui bahwa pada masa Majapahit kerajaan ini telah ada dan berdaulat. Namun demikian, ada beberapa sumber yang memuat nama Blambangan, yakni Serat Kanda (ditulis abad ke-18), Serat Damarwulan (ditulis pada 1815), dan Serat Raja Blambangan (ditulis 1774), di mana proses penulisannya dilakukan jauh setelah masa kejayaan Blambangan, yakni ketika masa Mataram-Islam dan kekuasaan Kompeni Belanda di Jawa tengah relatif kukuh. Di samping mengacu kepada sumber berjenis sekunder seperti ketiga serat tadi, kita masih memiliki sumber primer yang bisa dikaitkan dengan keberadaan Blambangan, yakni Pararaton, yang meski tak menyebutkan nama Blambangan namun kemunculan nama Arya Wiraraja dan Lamajang akan membantu kita menyibakkan kabut yang menyelimuti sejarah awal Kerajaan Blambangan.[6]
Muljana menulis bahwa cerita roman Damarwulan dan Minakjinggo muncul setelah meletusnya Perang Paregreg yang terjadi pada 1406. Perang inilah yang menginspirasi sastrawan Jawa yang membuat kisah Damarwulan-Minakjinggo. Tak terhitung sudah berapa kali kisah Damarwulan-Minakjinggo dipentaskan dalam seni sendratari, ketoprak, dan teater.
Kisah Damarwulan-Minakjinggo sendiri tercatat sedikitnya dalam tiga buah serat: Serat Kanda, Serat Damarwulan, dan Serat Blambangan. Penulis Serat Kanda, yakni sastrawan keraton Yogya, menurut Muljana, tak mengetahui pasti fakta-fakta sejerah seputar Perang Paregreg. Maka dari itu, cukup beresiko pula bila kita menghubungkan kisah Damarwulan-Minakjinggo ini dengan peristiwa Paregreg. Apalagi semua serat itu ditulis pada masa kerajaan Islam, berabad kemudian setelah peristiwa berlangsung.
Dikisahkan, penguasa Blambangan bernama Minakjinggo[7] ingin mempersunting Ratu Majapahit Kenya Kencanawungu.[8] Ia menaikkan statusnya, dari adipati menjadi raja Blambangan dengan gelar Prabu Urubisma. Sang Ratu yang tak ingin diperistri oleh Minakjinggo  yang sudah memiliki tiga orang istri yaitu Dewi Juwitawati, Dewi Juwitaningsih dan Dewi Juwitaningrum[9]. Tentunya Ratu Kencanawungu menolak lamaran tersebut secara tegas.
Penolakan teersebut tentunya dianggap sebagi penorengan terhadap Menakjinggo maka Menakjinggo melakukan suatu pemberontakan terhadap kerajaan pusatnya yaitu kerajaan Majapahit. Tentunya hal tersebut membuat sang Ratu meresa risau terhadap pemberontakan yang dilancarkan oleh Menakjinggo. Maka dia meminta bantuan kepada pamannya yang berada di Tuban yaitu Adipati Ranggalawe.
Mengetahui bahwa keponaknnya berada dalam masalah besar, tentu Adipati Ranggalawe tidak hanya berdiam diri kemudian dia menyiapkan pasukaanya untuk melakukan penyerangan. Akhirnya pertemuan muka antara Menakjinggo dengan Ranggalawe di Probolinggo dimana pada waktu itu probolinggo dijadikan tempat peristirahatan Menakjinggo sementaran selama menjalani pemberontakan melwan Majapahit dan menghacurkan pasukan-pasukan yang menghadangnya selam perjalanannya, termasuk Layangseta dan Layangkumitir sempat melakukan penghadangan.
Awalnya Menakjinggo tidak ingin turun tangan untuk menghadapi Ranggalawe namun melihat banyak prajurit dan patihnya yang terbunuh sehingga membuat dia menjadi sangat marah dan akhirnya turun ke medan. Terjadilah pertempuran secara langsung antara Menakjinggo dan Ranggalawe dimana pada duel satu lawan satu menakjinggo mengalami kekalahan hingga akhirnya Menakjinggo menyruh semua pasukannya untuk memanahi Ranggalawe, akhirnya Ranggalawe pun meninggal di tempat.[10]
Berita kematian Adipati Tuban Ranggalawe sampai di Kerajaan Majapahit. Mengetahui hal tersebut tentulah Dewi Kenanawungu tidak hanya berdiam diri, maka dengan kepala dingin dia Sang Ratu mengambil tindakan untuk mengadakan sayembara: barang siapa yang bisa mengalahkan Minakjinggo, ia akan diberi hadiah berlimpah. Raja Minakjinggo pun mengobrak-abrik Majapahit dengan Gada Wesi Kuningnya. Sebelum ke Majapahit, pasukan Blambangan menyerang Lumajang; bahkan dikirim pula utusan ke Ternate untuk diminta bantuan oleh Minakjingo. Para prajurit dan pejabat Majapahit banyak yang gugur, termasuk Ranggalawe. Tatkala situasi tak menentu ini, datanglah Damarwulan. Damarwulan adalah putra dari Patih Majapahit bernama Udara. Setelah dewasa ia mengabdi kepada pamannya, Patih Loh Gender di Majapahit, bekerja sebagai tukang rumput. Putri sang Patih, Dewi Anjasmara, terpikat pada Damarwulan.
Mengetahui bahwa keadaan Kerajaan sangat genting sehingga Dewi Anjasmarapun mengizinkan suaminya untuk pergi melawan Menakjinggo. Kemudian dia meminta kakaknya Layang Seta dan Layang Kumitir untuk mendapinginya selama perjalanan, kemudian ketika dia melakukan penyusupan ke tempat Menakjinggo, ternyata dia tidak ada namun di tempat tersebut ada ketiga istri dari Menakjinggo yang sedang bercengkrama, namun akhirnya penyusupan tersebut diketahui namun karena ketampanan Damarwulan sehingga membuat ketiga wanita tersebut jatuh hati kepadanya, atas rayuan Damarwulan yang menjajikan akan meperistri dengan syarat membantunya dalam mengalahkan Menakjinggo.[11]
Singkat cerita, Damarwulan menghadap Kencanawungu dan diangkat menjadi panglima Majapahit. Ratu Majapahit Menyuruh Damarwulan dan Setrokumitir memerangi Minakjinggo. Orang Blambangan sudah terkalahkan oleh Damarwulan namun Minakjinggo tetap tidak terkalahkan. Akhirnya Damarwulan berhasil mencuri wesikunig bersama istri dari minakjinggo itu sendiri yang telah memberitahukan rahasia dari kekebalan Minakjinggo. Maka dengan wesikuning tadi Damarwulan dapat membunuh Minakjinggo.[12] Kemudian memenggal kepalanya sebagai bukti kepada Ratu kencanawungu.
Damarwulan membawa kepala Minakjinggo ke Majapahit. Namun, di tengah jalan ia dikhianati oleh dua orang anak Loh Gender, yakni Layang Seta dan Layang Kumitir, yang mengaku sebagai utusan Ratu Kencanawungu. Tanpa curiga, kepala Minakjinggo diserahkan oleh Damarwulan. Layang Seto dan Layang Kumitir pun dianggap pahlawan oleh ratu dan rakyat Majapahit. Namun, akhirnya kedok mereka berdua terkuak[13], Damarwulan pun menikah dengan Kencanawungu dan menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Mertawijaya.
Raffles menulis bahwa pada abad ke-19 cerita Damarwulan-Minakjingo merupakan cerita favorit orang Jawa dan kerap dipentaskan dalam bentuk wayang klitik (wayang dari kayu dengan tinggi 10 inci) dan wayang beber (sosok wayang digambar pada lembaran kertas yang keras di mana dalang memberikan dialog).
Sebagian masyarakat percaya bahwa Ratu Kencanawungu merupakan perwujudan sosok Ratu Suhita, sedangkan Minakjinggo adalah Bhre Wirabhumi. Pandangan ini tentu bersifat ahistoris dan memang bertolak belakang dengan kajian di lapangan (misalnya terdapat nama Ranggalawe sebagai Adipati Tuban, yang seharusnya hidup pada masa Sanggramawijaya). Akan tetapi, terlepas dari sifatnya yang sastrawi, ada satu hal yang perlu diperhatikan mengenai kisah roman ini: keberpihakan para penulis serat tersebut sangat terasa, yakni berpihak kepada pihak yang menang (Majapahit, yang diwakili oleh sosok Damarwulan) dan seolah-olah memperolok pihak yang kalah, yakni Blambangan yang diwakili oleh sosok Minakjinggo. Karena dalam seni Banyuwangi dan Janger, sosok Minakjinggo ditampilkan dengan wajah rupawan dan ia memberontak karena Ratu Kencanawungu membatalkan rencananya untuk dinikahi oleh Minakjinggo.
Dan tentu: serat-serat tersebut dibuat untuk mengukuhkan pengetahuan masyarakat awam bahwa raja atau sultan Mataram-Islam (juga Pajang dan Demak) merupakan keturunan raja-raja Majapahit, dan dengan begitu mereka merasa lebih percaya diri untuk membangun kekuasaan mereka. Sang Ratu mengambil tindakan untuk mengadakan sayembara: barang siapa yang bisa mengalahkan Minakjinggo, ia akan diberi hadiah berlimpah dan menjadi suaminya. Dan hal itu dapat dijawab oleh Damarwulan.



                                                                                                                                   
BAB III
KESIMPULAN

Kerajaan Blambangan terletak di timur Kota Banyuwangi di Jawa Timur. Bila kita melihat peta, letak Blambangan berbatasan langsung dengan Selat Bali, dengan begitu kita yakin bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan pesisir. Bila melihat namanya, Blambangan berasal dari kata bala yang artinya “rakyat” dan ombo yang artinya “besar” atau “banyak”. Dengan begtu, kita dapat pahami bahwa Blambangan adalah “kerajaan yang rakyatnya cukup banyak”.
            Dikisahkan, penguasa Blambangan bernama Minakjinggo ingin mempersunting Ratu Majapahit Kenya Kencanawungu. Ia menaikkan statusnya, dari adipati menjadi raja Blambangan dengan gelar Prabu Urubisma. Sang Ratu yang tak ingin diperistri oleh Minakjinggo  yang sudah memiliki tiga orang istri yaitu Dewi Juwitawati, Dewi Juwitaningsih dan Dewi Juwitaningrum. Tentunya Ratu Kencanawungu menolak lamaran tersebut secara tegas.



DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/ wiki/Kerajaan_Blambangan diunduh pada tanggal 4 April 2012.
http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit diunduh pada tahnggal 4 april 2012.
Kerajaan Blambangan diunduh dari http://Kerajaan%20Blambangan %20%20%20 Permata%20Bangsa.htm pada tanggal 28 Maret 2011.
Melawan Mitos Minak Jinggo. Diunduh dari http://hasansentot2008. blogdetik.com/ 2011/03/14/melawan-mitos-menak-jinggo/ pada tanggal 4 April 2012.
R. Rangga Prawiradirja(terj). Serat Damarwulan.  Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982.
S.Z. Hadisutjipto(terj). Langendariya Ranggalawe. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982.
Sejarah Banyuwangi- Blambangan. Diunduh dari  http://livebeta.kaskus.us/ thread/ 00000000000000 0001146576/ share-sejarah-amp-budaya-banyuwangi---blambangan pada tanggal 4 April 2012.
Sejarah Kerajaan Blambangan diunduh dari file:///E:/SEJARAH%20 KERAJAAN%20 BLAMBANGAN% 20%C2% AB%20O singkertarajasa.htm pada tanggal 28 Maret 2012.
Soemarsono(terj). Langen Driya: Penjahipun Menak Jingga. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982.
Winarsih Partaningrat Arifin. Babad Blambangan. Yayasan Bentang. 1995.



[1] Sejarah Banyuwangi- Blambangan. Diunduh dari  http://livebeta.kaskus.us/thread/ 00000000000000 0001146576/ share-sejarah-amp-budaya-banyuwangi---blambangan pada tanggal 4 April 2012.
[2] Perang paregreg disinyalir adalah sebagai perang saudara antara Bhre Wirabhumi dengan saudaranya Wikrawardhana yang erujung kekelahan di pihak Bhre Wirabhumi, dan juga secara perlahan memberikan pengaruh terhadap runtuhnya kerajaan Majapahit.
[3] Sejarah Kerajaan Blambangan diunduh dari file:///E:/SEJARAH%20KERAJAAN%20 BLAMBANGAN%20%C2% AB%20Osingkertarajasa.htm pada tanggal 28 Maret 2012.
[4] Melawan Mitos Minak Jinggo. Diunduh dari http://hasansentot2008.blogdetik.com/ 2011/03/14/melawan-mitos-menak-jinggo/ pada tanggal 4 April 2012.
[5] Dikatakan bahawa Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir yang berada di pulau jawa. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Blambangan diunduh pada tanggal 4 April 2012.
[6] Kerajaan Blambangan diunduh dari http://Kerajaan%20Blambangan%20%20%20 Permata%20Bangsa.htm pada tanggal 28 Maret 2011.
[7] Minakjinggo yang disinyalir adalah Bhre Wirabhumi merupakan salah satu penguasa dari kebijakan pembagian wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di Blambangan. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit diunduh pada tahnggal 4 april 2012.
[8] Dewi Kencanawungu merupakan Raja dari kerajaan Majapahit yang menggantikan ayahnya Prabu Brawijaya I. lihat R. Rangga Prawiradirja(terj). Serat Damarwulan. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982) hlm. 7.
[9] Soemarsono(terj). Langen Driya: Penjahipun Menak Jingga. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982) hlm. 12.
[10]  S.Z. Hadisutjipto(terj). Langendariya Ranggalawe. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982) hlm. 13-16.
[11] Soemarsono(terj). Op cit. 13-14.
[12]  Winarsih Partaningrat Arifin. Babad Blambangan. (Yayasan Bentang, 1995) hlm. 276.
[13] Sejarah Kerajaan Blambangan. Loc cit.

0 comments:

Posting Komentar