Pages

Subscribe:

Selasa, 29 Mei 2012

Masuknya Bangsa-Bangsa Asing Ke Indonesia


Pada tahun 1453 orang-orang Turki Ottoman menaklukan Konstantinopel, namun bila dibandingkan dengan orang-orang Eropa telah mengalami perkembangan teknologi  dengan pesat sehingga memberikan pengaruh bagi bangsa Portugis untuk mengaruni Samudera diman hal ini merupakan suatu petualangan yang paling berani sepanjang zaman hanya deengan berbekal pengetahuan geografis, astronomi dan arsitektur perahu.
            Selain didukung oleh perkdmbangan teknologi yang mendukung untuk melakukan ekspansi ke seberang lautan mereka juga memiliki tekad dan kepentingan-kepentingan khusus. Atas dorongan Pangeran Henry dan para pelindung lainnya, para pelaut dan petualang Portugis memulai pencarian panjang mereka menyusuri pantai barat Afrika untuk mencari emas, memenangi pertempuran, dan meraih jalan untuk mengepung lawan yang beragama islam. Mereka juga berusaha mendapatkan jalan ke Asia dengan tujuan memotong jalur pelayaran para pedagang Islam yang melalui yang melalui tempa penjualan mereka di Venesia (Mediterania), momonopoli impor rempah-rempah ke Eropa  Karena rempah-rempah merupakan soal kebutuhan dan juga cita rasa. Selama musim dingin orang-orang Eropa, tidak adap satupun cara untuk yang dapat dilakukan agar daging hewan ternak mereka dapat bertahan lama pada musim dingin. Hal tersebut dapa dilakukan dengan campuran rempah-rempa. Dimana asal rempah –rempah tersebut diimpor dari kawasan Asia tenggara termasuk Indonesia seperti cengkih.
            Ketenaran kawasan Asia Tenggara yang kaya akan rempah-rempah sehingga memberikan hasrat yang tinggi bagi orang-orang Eropa untuk dapat menguasai. Setelah mendengar laporan dari pedagang Asia mengenai kekayaan Malaka yang sangat besar, maka Raja Portugis mengutus Diogo Lopes de Sequeira untuk menemukan Malaka, menjamin hubungan persahabatan dengan penguasanya, dan menetap di sana sebagai wakil Portugis di sebelah timur India. Tugas Sequeira tersebut tidak mungkin terlaksana seluruhnya ketika dia tiba di Malaka pada tahun 1509. Pada mulan kedantangannya disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah tetapi kemudian komunitas dagang Islam internasional yang tinggal di kota tersebut meyakinkan Sultan Mahmud Syah bahwa Portugis merupakan ancaman besar baginya, akhirnya ia berbalik melawan Portugis.
            Pada bulan April 1511. Alberqueque melakukan pelayaran dari Goa Portugis menuju Malaka dengan kekuatan kira-kira 1.200 orang dan 17 atau 18 buah kapal. Peperangan pecah segera setelah kedatangannya dan berlangsung terus secara sporadis  sepanjang bulan Juli  dan awal Agustus. Pihak Malaka terhambat pertikaian sengit antara Sultan Mahmud dan Putranya Sultan Ahmad. Hingga pada akhirnya kekalah bera di pihak Malaka, namun perlu diperhatikan juga bahwa Malaka mulai sekarat sebagai pelabuhan dagang selama berada di bawah cengkraman Portugis, karena mereka tidak pernah berhasil memonopoli perdangangan Asia. Mereka hanya punya sedikit sedikit pengaruh terhadap kebudayaan orang-orang Indonesia yang tinggal di Nusantara bagian Barat, dan segera merak menjadi bagianyang asing di lingkungan Indonesia.
            Sultan Ternate Abu Lais membujuk bangsa Portugis untuk mendukungnya, dan pada tahun 1522, mereka mulai membangun sebuah benteng. Sultan Mansur dari Tidore mengambil keuntungan dari kedatangan sisa-sisa ekspedisi pelayaran keliling dunia Magellan di tahun 1521 untuk membentuk satu persekutuan dengan bangsa Spanyol yang bagaimanapun, tidak memberikan banyak hasil dari periode ini.
            Hubungan Portugis dan Ternate berubah menjadi tegang karena upaya Portugis melakukan kristenisasi dan karena prilaku tidak sopan dari orang-orang Portugis sendiri pada umumnya. Pada tahun 1535, orang-orang Portugis di Ternate menurunkan Raja Tabariji dan mengirimnya ke Gowa yang dikuasai Portugis yang kemudian membaptisnya sehingga dia masuk agama Kristen. Namun sejarah portugis di maluku tidak berujung baik, karena  terjadi suatu peristiwa yaitu pembunuhan Sultan Hairun pada tahun 1570 oleh orang-orang Portugis, sehingga mereka diusir secara paksa dari Ternate pada tahun 1575 setelah terjadi pengepungan selama lima tahun.
            Pengusiran tersebut membawa Portugis ke Tidore dan membangun Benteng baru pada tahun 1578. Akan tetapi Ambonlah yang menjadi pusat utama kegiatan-kegiatan Portugis di Maluku. Ternate sementara itu menjadi sebuah negara yang gigih menganut Islam dan anti Portugis di bawah pemerintahan Sultan Baabullah dan Putranya Sultan ad-Din Berkat Syah.   
            Pada periode ini terjadi berbagai peperangan dan misionisasi dari orang-orang Portugis bagi mereka yang kalah dalam peperangan melawan Portugis terutama bagi raja yang ditaklukinya pembaptisan adalah kegiatan yang dilakukan kepada mereka yang ditakluki, karena hal ini merupakan salah satu tujuan awal mereka selain memonopoli rempah-rempah.
Kedatangan Bangsa Portugis ke tanah Nusantara yang membawa misi Perang Salib dan monopoli rempah-rempah namun tindakan mereka tentu mendapat tanggapan yang kurang baik, karena sebelum kedatangan mereka Nusantara sebagian besar telah memeluk Islam bahkan terjadi suatu konflik kekuasaan yang didapatkan reaksi dari raja-raja Nusantara. Setelah bangsa Portugis kemudian datang orang-orang Belanda yang mewarisi aspirasi-aspirasi dan strategi Portugis. Orang-orang Belanda membawa organisasi, persenjataan, kapal-kapal, dan dukungan keuangan yang lebih baik serta kombinasi antara keberanian dan kekejaman yang sama.
            Perang kemerdekaan Belanda melawan Spanyol pada tahun 1560-an dan berakhir pada tahun 1648, dimana karena perang tersebut memberikan pengaruh besar dimana pasaca perang tersebut orang-orang Belanda telah bertindak sebagai perantara dalam penjualan rempah-rempah secara eceran dari Portugis ke Eropa bagian utara, tetapi karena perang kemerdekaan tesebut, ditambah dengan bersatunya tahta Spanyol dan Portugal pada tahun 1850, yang mengakibatkan mengacaukan jalur orang-orang Belanda untuk mendapatkan rempah-rempah yang dibawa dari Asia oleh orang-orang Portugis.
            Pada tahun 1595, ekspedisi Belanda yang pertama siap berlayar ke Hindia Timur. Sebanyak 4 buah kapal dengan 249 awak dan 64 pucuk meriam berangkat di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Pada tahun 1596, kapal-kapal de Houtman tiba di Banten, pelabuhan lada de terbesar di Jawa Barat. Di sana orang-orang Belanda segera terlibat dalam konflik, baik dengan orang-orang Portugis maupun dengan orang-orang pribumi, hingga pada akhirnya de Houtman meninggalkan Banten dan berlayar ke timur dengan menyusuri pantai utara Pulau Jawa, sambil melakukan banyak penghinaan dan menyebabkan kerugian yang besar di setiap pelabuhan yang dikunjunginya.
            Pada zaman yang dikenal sebagai zaman pelayaran liar (wilde vaart), yaitu ketika perusahaan-perusahaan ekspedisi Belanda yang saling berasaing dan berjuang keras untuk memperoleh bagian dari rempah-rempah Indonesia. Pada tahun 1599 armada yang dipimpin oleh Jacob van Neck tiba di Maluku, diman rombongan tesebut diterima dengan baik sehingga ketika armada tersbut kembali ke negara asalnya dimana kapal-kapalnya mengengkut cukup banyak rempah-rempah yang menghasilkan keuntungan besar 400 persen.
            Sebelumnya pada tahun 1598 Parlemen Belanda (staten general) mengajukan sebuah ulasan supaya perseroan-perseroan yang saling bersaing sebaiknya menggabungkan kepentingan mereka masing-masing ke dalam satu fusi dimana hal tersebut dapat terwujud dalam waktu empat tahun. Pada bulan Maret 1602, perseroan-perseroan yang saling bersaing bergabung membentuk Perserikatan Maskapai Hindia Timur, VOC (Vereening-de oost-Indische Compagnie). Pada tahun-tahun pertama, Heeren XVII menangani sendiri segala urusan VOC, tetapi segera disadari bahwa mereka tidak mungkin mengelola dengan baik pelaksanaan tugas harian di Asia. Jarak kawasan yang sangat jauh sehingga pertukaran berita antara Amsterdam dan Indonesia dapat memakan waktu dua atau tiga tahun sehingga dibentuklah cabang VOC yang berada di Ambon (Indonesia).
            Orang-orang Portugis yang lebih dulu berada di Ambon mendapatkan tekanan berat yang dilancarkan oleh musuh-musuh lokal mereka pada akhir abad XVII, namun dengan kedatangan orang-orang Belanda yang juga menginginkan daerah tersebut, sehingga Belanda memanfaatkan situasi tersebut, yaitu dengan membantu Hitu yang tak lain adalah musuh dari Portugis. Akhirnya, orang-orang Portugis menyerah yang berlanjut dengan VOC menduduki benteng Portugis di Ambon, mengganti namanya dengan Victoria.
            Meskipun sudah mendapatkan keberhasilan di Ambon, tetapi orang-orang Belanda masih jauh dari tujuan mereka yaitu memonopoli semua rempah-rempah sehingga harus dilakukan langkah-langkah yang lebih keras, sehingga pada tahun 1610 diciptakan jabatan Gubernur Jenderal, sedangkan untuk mencegah kemungkinan kekuasaan Gubernur Jenderal yang despotis, maka dibentulah Dewan Hindia (Raad van Indie) untuk menasehati dan mengawasinya.
            Kebutuhan markas besar yang permanen di Nusantara bagian barat semakin terasa dengan meningkatnya ancaman persaingan dari pihak Inggris yang juga ikut dalam melangsungkan perdagangan rempah-rempah. Selama 1611-1617, orang-orang Inggris juga mendirikan kantor-kantor dagang mereka di Indonesia diantaranya di Sukadana, Makasar, Jayakarta, Jepara, Aceh, Pariaman, dan Jambi. Konflik Inggris-Belanda semakin memuncak ketika orang-orang Belanda merasa bahwa cita-cita monopoli mereka telah luput.
            Pada awal abad XVII pihak VOC mendapatkan ancaman militer lebih kecil dari pihak Inggris dibandingkan dengan pihak Portugis dan Spanyol. Namun demikian, kegiatan-kegiatan Inggris telah memperbesar keinginan VOC untuk mendapatkan suatu pusat pertemuan. Kegiatan orang-orang  Inggris tersebut juga memberikan kesan kepada VOC tentang perlu ditingkatkannya langkah-langkah yang keras apabila mereka ingin mencapai tujuan untuk memonopoli rempah-rempah, pada tahun 1619 Jan Pieterzoen Coen menjadi Gubernur Jenderal dan dialah yang menempatkan VOC pada suatu tempat berpijak yang kokoh dimana cara kekerasan dilakukan olehnya yaitu melalui peperangan untuk dapat menguasai perdagangan.
            Akibat kebijakan Coen sehingga terjadi peperangan di berabagai kawasan Nusantara dan mengakibatkan banyak korban bagi kaum pribumi, namun karena kebijakannya Belanda besahasil mewujudkan apa yang diinginkannya yaitu memonopoli rempah-rempah. Selain itu Coen juga mendapatkan pusat pertemuan untuk VOC, dimana Coen lebih menyukai Jayakarta untuk dijadikan sebagai markas besar VOC yang permanen.  Tempat ini memiliki pelabuhan yang sangat bagus, yang telah dipuji oleh Tome Pires satu abad sebelumnya sebagai salah satu pelabuhan terbaik di Jawa, dan Coen mengira bahwa VOC dapat berkuasa sepenuhnya di sana. Jayakarta diperintah oleh seorang Pangeran Muslim bernama Pangeran Wijayakrama yang merupakan vasal Banten. Terjadi ketegangan antara Jayakarta dan Banten, dimana orang-orang Belanda maupun Inggris terlibat di dalamnya.
            Pada bulan Desember 1618, Banten mengambil keputusan untuk menaklukan Jayakarta dan VOC. Laksamana Inggris, Thomas Dale, didesak untuk pergi ke Jayakarta untuk mengusir orang-orang Belanda yang ada di sana. Di pelabuhan Dale di hadang oleh Coen, namun Dale dapat memukul mundur Coen dan armadanya. Kemudian Dale dan Wijayakrama bersama-sama mengepung benteng Belanda. Ketika personil VOC mengambil keputusan untuk menyerah pada akhir Januari 1619, secara tiba-tiba muncul balatentara Banten menghalangi maksud mereka. Karena Banten tidak ingin pos VOC yang mneyusahkan itu digantikan oleh pos Inggris yang tentunya juga sama akan menyusahkan bagi Banten. Sehingga terjadi petempuran yang mengakibatkan kekalahan di pihak Thomas Dale dan Wijayakrama, dan akhirnya VOC tetap menduduki pos mereka sedangkan balatentara Banten menduduki kota. Kemdian pada tanggal 12 Maret 1619 Jayakarta diubah namanya menjadi Batavia yang diambil dari nama suku bangsa Jerman Kuno di Negeri Belanda.
            Pada tanggal 30 Mei 1619, Coen menyerang kota, meratakannya dengan tanah, dan memukul mundur tentara Banten. Pada akhirnya Jayakarta menjadi markas besar kerajaan niaga voc yang luas, dimana VOC dapat membangun pusat militer dan administrasi di tempat yang relatif aman bagi pergudangan dan pertukaran barang, yang terletak di Nusantara bagian barat dan mudah mencapai jalur-jalur perdagangan ke Indonesia Timur, Timur Jauh, dan Eropa.
            Akan tetapi, timbul pula dampak-dampak yang kurang menguntungkan bagi VOC, pendudukan permanen atas Batavia memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengelolanya. Meskipun jumlah penduduknya yang berkebangsaan Eropa tidak banyak, namun kota tersebut berkembang pesat ketika orang-orang Indonesia dan terutama orang-orang Cina pindah ke sana untuk mengejar keuntungan perdagangan yang ditawarkan Batavia bagi mereka. Penduduk ini perlu diberi makan, yang berarti bahan makanan harus diimpor, dan sumber terdekatnya ialah pantai utara Jawa dan juga mengantisipasi dari serangan-serangan yang mungkin terjadi seperti Banten di Barat dan Mataram di timur. Batavia merupakan penyebab utama merosotnya kondisi keuangan VOC. Kota ini juga menjadi landasan bagi berkembangnya  pemerintahan Belanda di Jawa nanti. Tetapi tentu saja hanya setelah menimbulkan banyak pertumpahan darah dan kesulitan.

M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta. Serambi. 2005.


0 comments:

Posting Komentar