Pages

Subscribe:

Sabtu, 19 Mei 2012

Kebijakan AS Yang Memberikan Keuntungan Bagi Jepang Pasca Perang Dunia II


Tiga puluh tahun yang lalu industri Barat terkejut, kagum bahkan terpesona melihat kenyataan kemajuan Jepang yang dengan cepat berhasil melakukan penetrasi ke pasar dunia, padahal terjadi resensi dan krisis energi bahkan menjelang abad ke-20. Hal ini disebabkan berkaitan dengan kemajuan informasi, komunikasi dan transportasi.                
                 Pada tahun 1970-an Jepang memperoleh julukan yang tida begitu mengenakan yaitu “Economic Animal” karena resesi yang cukup panjang serta kesalahan atas estimimasi dalam penentuan arah perkembangan di berbagai sektor industri, nampak sedang menyusun kembali kekuatan dengan menempuh pola baru dalam struktur organisasi perusahaannya yang tidak terlepas dari nilai-nilai kebudayaannya disebut dengan istilah “Economic Buble” sekitar tahun 1988-1992.
           Apabila melihat dari perhitungan Barat tentulah sangat tidak mungkin dengan relitas jepang sesungguhnya yang dapat berkembang dengan pesat pada kurun waktu tersebut. Hal ini disebabkan karena para analis hanya menitikberakan kepada masalah ekonomi saja, yang berujung tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan, khususnya analis terhadap perkembangan industri dan perdagangan internasionalnya.
                  Berakhirnya Perang Dunia II dan kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik, telah merubah secara drastis wajah ekonomi industry Jepang. Meskipun telah hancur AS memilik dendam yang mendalam sehingga yang diinginkan bukan kehancuran Jepang dalam bidang militer, politik dan ekonomi saja, tetapi lebih jauh juga menginginkan hancur leburnya pranata-pranta social, budaya dan agama serta tradisi-tradisi yang telah dianut selama ribuan tahun silam. Sebetulnya sekutu telah melakukan suatu tindakan dengan harapan dapat menghapus militerisme Jepang, bahkan lebih jauh militeris yang didukung oleh mesin perang produsi zaibatsu (konglomerasi Pra-PD II), fantisme agam Shintoo yang mengilhami kedaulatan Kaisar Jepang dan mitos kaisar sebagai penjelmaan Amaterasu Ohmikami, harus juga disapu bersih dari muka bumi Jepang. Termasuk juga apa yang dikenal dengan konsep patrilineal, primogenitural, ascentor worship phliosopy dan warm-hearted yang semuanya melekat di dalam struktur masyarakat Jepang dan yang berfungsi untuk mempertahankan keutuhan dan kelangsungan keluarga, harus direformasi. Untuk itu konstitusi Jepang yang diberlakukan pada tanggal 3 Mei 1947 serta yang “dipaksakan” oleh sekutu melalui The Supreme Commander of the Allied Power (SCAP) memuat hal-hal atau pasal-pasal yang telah mengantisipasi kemungkinan terulangnya kembali perang Asia Timur Raya dan yang pasti adalah membubarkan zaibatsu.
            SCAP dibawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, dengan sangat  cepat melakukan demiliterisasi dan bahkan mengupayakan terlaksananya demokratisasi di Jepang secepat mungkin, langkah berikutnya diciptakan langkah deklarasi tentang “Initial Post Surrender Policy For Japan” pada tanggal 29 Agustus 1945, yang intinya adalah kebijaksanaan untuk melakukan liquidasi dimulai pada bulan September 1945  dengn tujuan utamanya adalah melikuidasi “Holding Company” dari lima buah zaibatsu yaitu Mitsui Honsha, Mitshubisi Honsha, Sumitomo Honsha, Yasuda Hozensha dan Fuji Sangyoo. Giliran berikutnya lebih dari 30 Holding Company Liquidation Commission (HCLC) yang dibentuk oleh sekutu. Kemudian lebih drastis lagi adalah kekayaan darri sekitar 50 orang yang terlibat keluarga zaibatsu dibekukan bahkan harus menyerahkan saham-sahamnya kepada HCLC. Baru pada tanggal 3 Mei 1947 dibubarkan zaibatsu.
            Meskipun konstitusi baru Jepang telah dibentuk ternyata langkan yang telah dilakukan oleh MacArthur ini tidak berhasil karena terjadinya reinkarnasi raksasa zaibatsu menjadi raksasa yang termodifikasi yaitu Keiratsu. Tepat sekali kiranya sebuah buku yang ditulis oleh Jhon Gunter pada tahun 1974 dengan judul “The Riddle of MacActhur”.
            Pertumbuhan keiretsu yang begitu cepat serta mengagumkan bukanlah karen faktor-faktor internal Jepang semata. Namun lebih disebabkan kesalahan-kesalan kebijakan sekutu yang diuat dan dilaksanakan SCAP yaitu:
            Pertama, konstitusi baru Jepang yang dipaksakan oleh sekutu bukanlah merupakan jaminan mutlak untuk memperoleh ketaatan dari setiap orang Jepang karena hal ini memuat perubahan-perubahan dalam hal-hal yang menyangkut atau bersifat mitos dan kebudayaan Jepang yang telah dianut selama ribuan tahun.
            Kedua, konstitusi baru yang melarang pembangunan kekuatan militernya yang khususnya bertujuan untuk mencegah timbulnya militerisme Jepang yang belikostik, justru konsekuensinya, AS terpaksa harus melindungi Jepang dengan kebijaksanaan payung nuklir untuk menghadapi kemungkinan bahaya komunis, sehingga dapat menghemat anggaran Jepang kemudian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan industry.
            Ketiga, SCAP di dalam kebijakannya tidak pernah menghancurkan atau bahkan meelikuidasi seluruh lembaga keuangan bank yang tergabung dalam zaibatsu. Padahal sekutu terutama AS telah mengembargo peminjaman uang kepada Jepang namun AS lupa bahwa dengan kebijaksanaan tersebut berarti membiarkan para manajer professional dan para karyawan lingkungan bank tetap utuh dan masih berfungsi.
            Keempat, krisis di Semenanjung Korea antara tahun 1951-1953 yang akhirnya berkembang menjadi perang terbuka antara Korea Utara yang komunis dan Korea Selatan yang kapitalis, memaksa AS atas nama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut campur tangan terjun ke medan perang Korea dengan mengerahkan kekuatan militernya baik dari angkatan darat, laut maupun udaranya secara besar-besaran dimana harus membutuhkan logistik yang besar akhirnya AS terpaksa menggunakan jasa baik Jepang karena jepang dianggap pantas menerima tugas pengadaan dan memasok logistik tersebut.
            Akibatnya, akumulasi kesalahan-kesalahan kebijakan AS inilah yang justru mempunyai andil besar dalam mempercepat proses reinkarnasi dari raksasa zaibatsu dan muncul raksasa baru yang dikenal dengan keiretsu serta memiliki pola dasar, struktur dan mekanisme kerja yang mirip meskipun tidak serupa.

( Tugas Mata Kuliah Sejarah Asia Baru, Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember)

0 comments:

Posting Komentar