Tiga
puluh tahun yang lalu industri Barat terkejut, kagum bahkan terpesona melihat
kenyataan kemajuan Jepang yang dengan cepat berhasil melakukan penetrasi ke
pasar dunia, padahal terjadi resensi dan krisis energi bahkan menjelang abad
ke-20. Hal ini disebabkan berkaitan dengan kemajuan informasi, komunikasi dan
transportasi.
Pada
tahun 1970-an Jepang memperoleh julukan yang tida begitu mengenakan yaitu “Economic
Animal” karena resesi yang cukup panjang serta kesalahan atas
estimimasi dalam penentuan arah perkembangan di berbagai sektor industri,
nampak sedang menyusun kembali kekuatan dengan menempuh pola baru dalam
struktur organisasi perusahaannya yang tidak terlepas dari nilai-nilai
kebudayaannya disebut dengan istilah “Economic Buble” sekitar tahun
1988-1992.
Apabila
melihat dari perhitungan Barat tentulah sangat tidak mungkin dengan relitas
jepang sesungguhnya yang dapat berkembang dengan pesat pada kurun waktu tersebut.
Hal ini disebabkan karena para analis hanya menitikberakan kepada masalah
ekonomi saja, yang berujung tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan,
khususnya analis terhadap perkembangan industri dan perdagangan
internasionalnya.
Berakhirnya Perang Dunia
II dan kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik, telah merubah secara drastis
wajah ekonomi industry Jepang. Meskipun telah hancur AS memilik dendam yang
mendalam sehingga yang diinginkan bukan kehancuran Jepang dalam bidang militer,
politik dan ekonomi saja, tetapi lebih jauh juga menginginkan hancur leburnya
pranata-pranta social, budaya dan agama serta tradisi-tradisi yang telah dianut
selama ribuan tahun silam. Sebetulnya sekutu telah melakukan suatu tindakan
dengan harapan dapat menghapus militerisme Jepang, bahkan lebih jauh militeris
yang didukung oleh mesin perang produsi zaibatsu (konglomerasi Pra-PD
II), fantisme agam Shintoo yang mengilhami kedaulatan Kaisar Jepang dan mitos
kaisar sebagai penjelmaan Amaterasu Ohmikami, harus juga disapu bersih
dari muka bumi Jepang. Termasuk juga apa yang dikenal dengan konsep patrilineal,
primogenitural, ascentor worship phliosopy dan warm-hearted yang
semuanya melekat di dalam struktur masyarakat Jepang dan yang berfungsi untuk
mempertahankan keutuhan dan kelangsungan keluarga, harus direformasi. Untuk itu
konstitusi Jepang yang diberlakukan pada tanggal 3 Mei 1947 serta yang
“dipaksakan” oleh sekutu melalui The Supreme Commander of the Allied Power (SCAP)
memuat hal-hal atau pasal-pasal yang telah mengantisipasi kemungkinan
terulangnya kembali perang Asia Timur Raya dan yang pasti adalah membubarkan zaibatsu.
SCAP dibawah
pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, dengan sangat cepat melakukan demiliterisasi dan bahkan
mengupayakan terlaksananya demokratisasi di Jepang secepat mungkin, langkah
berikutnya diciptakan langkah deklarasi tentang “Initial Post Surrender
Policy For Japan” pada tanggal 29 Agustus 1945, yang intinya adalah
kebijaksanaan untuk melakukan liquidasi dimulai pada bulan September 1945 dengn tujuan utamanya adalah melikuidasi “Holding
Company” dari lima buah zaibatsu yaitu Mitsui Honsha, Mitshubisi
Honsha, Sumitomo Honsha, Yasuda Hozensha dan Fuji Sangyoo. Giliran berikutnya
lebih dari 30 Holding Company Liquidation Commission (HCLC) yang
dibentuk oleh sekutu. Kemudian lebih drastis lagi adalah kekayaan darri sekitar
50 orang yang terlibat keluarga zaibatsu dibekukan bahkan harus
menyerahkan saham-sahamnya kepada HCLC. Baru pada tanggal 3 Mei 1947 dibubarkan
zaibatsu.
Meskipun
konstitusi baru Jepang telah dibentuk ternyata langkan yang telah dilakukan
oleh MacArthur ini tidak berhasil karena terjadinya reinkarnasi raksasa zaibatsu
menjadi raksasa yang termodifikasi yaitu Keiratsu. Tepat sekali
kiranya sebuah buku yang ditulis oleh Jhon Gunter pada tahun 1974 dengan judul
“The Riddle of MacActhur”.
Pertumbuhan keiretsu
yang begitu cepat serta mengagumkan bukanlah karen faktor-faktor internal
Jepang semata. Namun lebih disebabkan kesalahan-kesalan kebijakan sekutu yang
diuat dan dilaksanakan SCAP yaitu:
Pertama, konstitusi baru Jepang yang
dipaksakan oleh sekutu bukanlah merupakan jaminan mutlak untuk memperoleh ketaatan
dari setiap orang Jepang karena hal ini memuat perubahan-perubahan dalam
hal-hal yang menyangkut atau bersifat mitos dan kebudayaan Jepang yang telah
dianut selama ribuan tahun.
Kedua, konstitusi baru yang melarang
pembangunan kekuatan militernya yang khususnya bertujuan untuk mencegah
timbulnya militerisme Jepang yang belikostik, justru konsekuensinya, AS
terpaksa harus melindungi Jepang dengan kebijaksanaan payung nuklir untuk
menghadapi kemungkinan bahaya komunis, sehingga dapat menghemat anggaran Jepang
kemudian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan industry.
Ketiga, SCAP di dalam kebijakannya
tidak pernah menghancurkan atau bahkan meelikuidasi seluruh lembaga keuangan
bank yang tergabung dalam zaibatsu. Padahal sekutu terutama AS telah
mengembargo peminjaman uang kepada Jepang namun AS lupa bahwa dengan
kebijaksanaan tersebut berarti membiarkan para manajer professional dan para karyawan
lingkungan bank tetap utuh dan masih berfungsi.
Keempat, krisis di Semenanjung Korea
antara tahun 1951-1953 yang akhirnya berkembang menjadi perang terbuka antara
Korea Utara yang komunis dan Korea Selatan yang kapitalis, memaksa AS atas nama
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut campur tangan terjun ke medan perang
Korea dengan mengerahkan kekuatan militernya baik dari angkatan darat, laut
maupun udaranya secara besar-besaran dimana harus membutuhkan logistik yang
besar akhirnya AS terpaksa menggunakan jasa baik Jepang karena jepang dianggap
pantas menerima tugas pengadaan dan memasok logistik tersebut.
Akibatnya, akumulasi
kesalahan-kesalahan kebijakan AS inilah yang justru mempunyai andil besar dalam
mempercepat proses reinkarnasi dari raksasa zaibatsu dan muncul raksasa
baru yang dikenal dengan keiretsu serta memiliki pola dasar, struktur
dan mekanisme kerja yang mirip meskipun tidak serupa.
( Tugas Mata Kuliah Sejarah Asia Baru, Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember)
0 comments:
Posting Komentar