Pages

Subscribe:

Sabtu, 26 Mei 2012

Makna Upacara Yadnya Kasada




Sejarah Upacara Yadnya Kasada
Kepercayaan manusia Jawa terhadap gunung berapi dari zaman prasejarah sampai sekarang memang masih kuat. Orang yang tinggal di daerah Gunung Merapi percaya bahwa ada Kraton Mahluk Halus di gunungnya yang mirip Kraton Mataramdalam duina manusia. Selanjutnya Kraton Mahluk Halus tersebut adalah bagian kosmologi manusia yang lebih luas termasuk Laut Selatan, Gunung Lawu dan Khayangan, Dhepih dalam dunia gaib dan Kraton Mataram di Yogyakarta dalam duina manusia. Rakyat yang tinggal di desa-desa terletak di lereng Gunung Merapi yang punya kepercayaan mengenai dunia akhirat dan roh leluhur yang pula termasuk kosmologi gaib tersebut. Masyarakat Tengger yang percaya bahwa Gunung Bromo didiami oleh mahluk halus serta roh leluhur yang dianggap sebagai cikal bakal manusia Tengger. Orang di beberapa esa Tengger pula punya kepercayan mengenai dunia akhirat dan termasuk Gunung Mahamert serta Gunung Bromo. Selanjutnya gunung di daerah Tengger juga berarti luas untuk orang non-Tengger yang datang ke daerahnya untuk rekreasi, upacara atau semedi seperti Upacara Kasada.[2]
Menurut ceritera, asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta brahma bernama Joko Seger.
Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan bersamaan mulai menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan beberapa kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian menuju di kawasan Pegunungan Tengger termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger.
Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger yang Budiman”. Nama tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger.
Kata tengger berarti juga tenggering budi luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak Gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan.
Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orangtua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.
Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib: “Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orangtua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo”.
Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger[3] dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo. Upacara ini berlokasi disebuah pura yang berada dibawah kaki gunung bromo. Dan setelah itu dilanjutkan kepuncak gunung bromo. Up`cara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama dibulan kasodo menurut penanggalan jawa. Tempat untuk mengadakan upacara kasada adalah Pura Luhur Poten Gunung Bromo, tidak seperti pemeluk hindu pada umumnya yang memiliki candi-candi sebagai tempat ibadah. Namun poten merupakan sebidang tanah dilahan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara kasada. Sampai sekarang adat istiadat ini dilakukan secara turun menurun.
Selain itu Upacara Kasada bromo juga dilakukan untuk mengangkat seorang Tabib atau dukun disetiap desa. Agar mereka dapat diangkat oleh para tetua adat, mereka harus bisa mengamalkan dan menghafal mantera mantera. Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai, mereka mengerjakan sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo. Pada malam ke 14 bulan Kasada Masyarakat tengger berbondong bondong dengan membawa ongkek yang berisi sesajo dari berbagai macam hasil pertanian dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun sepuh yang dihormati datang mereka kembali menghafal dan melafalkan mantera, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat dipoten lautan pasir gunung bromo.
Bagi masyarakat Tengger, peranan Dukun adalah sangat penting. Karena mereka bertugas memimpin acara – acara ritual, perkawinan dll. Sebelum lulus mereka diwajibkan lulus ujian dengan cara menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra. Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo dapat kita lihat dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.[4] 

Prosesi Yadnya Kasada (Upacara Kasada)

            Pada malam ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.

            Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkimpoian dll. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan membacakan mantra-mantra.
Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek[5] yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jath hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo dapat kita lihat dari malam sampai siang hari Kasada Bromo. 
Pada malam ke-14[6] Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi jeselamatan oleh Yang Maha Kuasa.
Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkimpoian dll. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan membacakan mantra-mantra.
Dalam  pelaspasan ongkek ini tidak ada persembahyangan, baik oleh Carik maupun keluarganya. Satu hal yang unik adalah tempat pemujaan ongkek di halaman rumah yang beralaskan tikar. Dalam tugas pelaspasan ongkek, dukun  memakai  busana  khusus  yaitu  berkain  dan  berbaju hitam,  memakai  tutup  kepala  yang biasa dikenal dengan istilah  blangkon. Dukun berselempang kain kuning yang melintang menyilang di depan dada, yang ujungnya berisi uang  kepeng dan diikatkan pada rumbai kain kuning yang merupakan selempang tersebut. Tidak terlihat dukun memakai  genta, dan setelah selesai pemujaan,  ongkek masih ditempatkan di rumah Carik sambil menunggu pemberangkatan yang dilaksanakan sekitar pukul 22.00 – 01.00 WIB.
Selanjutnya salah satu  ongkek yang telah dibuat dan di-pelaspas di rumah Carik dipersembahkan di Dingklik (untuk desa-desa kawasan Pasuruan) atau di  Cemoro Lawang  (untuk desa-desa di kawasan kabupaten Probolinggo), sedangkan  ongkek  yang satunya lagi langsung dibawa ke Poten, yakni suatu tempat berupa altar memanjang tempat para dukun melakukan pemujaan di kaki gunung Bromo di tengah-tengah Segara Wedhi. Di tempat itu pula para dukun mulai berdatangan, masing-masing membawa sebuah  ongkek,  sangku, perapian untuk membakar kemenyan dan sesaji berupa makanan. 
Pada sekitar pukul 01.00 WIB calon dukun yang akan diuji dan dilantik telah bersiap diri. Ujian calon dukun yang disaksikan oleh para dukun dari semua desa di kawasan Tengger itu disebut mulunan,  sedang bentuk ujiannya adalah merapalkan mantera-mantera yang telah diajarkan oleh ketua dukun. Seandainya apa yang telah dipelajari tersebut dapat dirapalkan dengan baik dan dibenarkan para dukun yang hadir, maka yang bersangkutan dinyatakan lulus dan berhak menjadi dukun, dengan ditandai pemasangan atribut  selempang kain kuning. Sebaliknya bila yang  bersangkutan  salah merapalkan  mantera-mantera  dan  juga disalahkan  oleh  para  dukun, maka calon dukun diijinkan untuk mengikuti ujian lagi pada upacara tradisional Kasada tahun berikutnya.
Atribut dukun penguji atau dukun lainnya adalah sama, yakni memakai  kain hitam atau batik hitam, berbaju hitam dengan tutup kepala  blangkon dan  selempang kuning yang kedua ujungnya ditempatkan di samping agak ke belakang dengan uang  kepeng yang dimasukkan di dalamnya. Setelah selesai pelantikan dukun baru, tibalah saatnya mempersembahkan sesaji ke hadirat Hyang Maha Agung. Pada saat ini para dukun merapalkan mantera, memercikkan air suci dan membakar kemenyan. Mestinya pada saat upacara tradisional ini semua dukun harus hadir, kecuali dukun yang sedang menghadapi pantangan hadir, misalnya jika ada seseorang yang meninggal dunia pada antara 44 hari sebelum pelaksanaan upacara Kasada.
Setelah selesai pemujaan di Poten dan waktu telah mencapai putih wetan  yaitu matahari sudah mulai terbit, maka saat itu pula upacara  ngelabuh sesaji di kawah gunung Bromo telah selesai dilaksanakan. Setelah upacara selesai dilaksanakan  oleh para dukun, maka berakhir pula upacara tradisional Kasada, yang selalu dilaksanakan setiap tahun di kawah gunung Bromo.
Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo dapat kita lihat dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.[7]
Makna Dibalik Upacara Kasada
Upacara tradisional merupakan salah satu bentuk ungkapan budaya, banyak mengandung nilai-nilai yang dapat diteladani dan diinternalisasi oleh generasi penerus. Pada hakekatnya sistem nilai merupakan posisi sentral dari struktur budaya suatu masyarakat, dan sistem nilai merupakan fenomena dan problem dasar kehidupan manusia, karena sistem nilai merupakan perangkat struktur dalam kehidupan manusia baik secara individu maupun secara sosial.  Demikian pula nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Kasada, merupakan fenomena dan problematik dasar dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, sehingga upacara ini senantiasa dilaksanakan oleh masyarakat  pendukungnya  di  kawasan Tengger  pada  khususnya,  dan masyarakat umum yang menganggap upacara tersebut mempunyai makna atau keunikan bagi dirinya.
Perwujudan upacara tradisi tersebut direncanakan dan diatur segala sesuatunya lebih dahulu yang tidak hanya memecahkan masalah manusia saja tetapi juga memmpunyai nilai-nilai yang membangun suatu peradaban. Dengan demikian selalu mengalami perubahan sejalan dengan roda peradaban itu sendiri, serta mempunyai arti penting dalam kebudayaan manusia yang memberi nilai tertentu sepanjang perjalanan sejarah manusia.  
 Nilai  budaya  yang  dapat  dipetik  untuk  diteladani yang diwariskan oleh nenek moyang melalui upacara tradisional Kasada antara lain adalah sebagai berikut :
1. Sebagai Penghormatan terhadap Leluhur
 Upacara tradisional Kasada merupakan sarana ucapan rasa syukur dari masyarakat kawasan gunung Bromo kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan perlindungannya karena keberhasilannya, tidak hanya menjadikan masyarakat  meningkatkan sektor pertanian, juga perdagangan, kerajinan dan kesejahteraan hidup mereka. Pada perkembangan selanjutnya upacara ini dikaitkan dengan cikal bakal atau sesepuh desa sebagai pepunden-nya dalam memimpin seluruh kegiatan terkait dengan pelaksanaan upacara tradisional, serta penghormatan terhadap perjuangan nenek moyang (cikal bakal) masyarakat Tengger yang telah membangun dan memberikan perlindungan terhadap hidup mereka. 
2. Sebagai Kepatuhan
Dalam upacara radisional Kasada, faktor kepatuhan nampak pada masyarakat pendukungnya secara patuh melaksanakan upacara tersebut yang pada hakekatnya merupakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidak mau melanggar pelaksanaan upacara ini seperti misalnya mengganti hari pelaksanaan atau bahkan meniadakan upacara itu sendiri. Faktor kepatuhan juga nampak pada persiapan pembuatan sesaji upacara. Mereka secara teliti mempersiapkan macam-macam sesaji dengan lengkap, karena kalau salah satu sesaji ada yang kurang lengkap, maka mereka mempunyai kepercayaan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dengan adanya faktor kepatuhan seperti tersebut di  atas secara tidak langsung masyarakat pendukung upacara ini telah mempunyai kesadaran akan arti dari kepatuhan terhadap lingkungannya. Hal ini apabila direfleksikan apa yang telah diperbuat oleh masyarakat pendukung upacara tersebut, bisa  dikatakan sebagai suatu  pelajaran bagi masyarakat untuk belajar mematuhi segala aturan yang ada di lingkungannya.
3. Sebagai Unsur Kebersamaan dan Kerukunan  
Sejak persiapan upacara sampai dengan akhir upacara banyak melibatkan masyarakat di lingkungannya. Keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan upacara, menunjukkan bahwa di antara mereka terjalin hubungan saling membutuhkan  untuk bisa bersama-sama melaksanakan upacara. Hal ini nampak pada saat pengumpulan bahan-bahan sesaji, pembuatan kerangka bambu untuk pembuatan  ongkek, serta pembersihan tempat di rumah Carik. Hal ini menunjukkan adanya kebersamaan dan kerukunan di antara masyarakat, karena di samping mereka membuat sesaji secara perorangan juga membuat sesaji desa yang berfungsi sebagai unsur utama.
4. Sebagai Aset Wisata
Upacara tradisional Kasada banyak mendapat perhatian dari masyarakat luas, Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang datang ingin menyaksikan upacara tersebut, tidak hanya seluruh masyarakat setempat melainkan mereka yang bukan pemeluk agama Hindu pun hadir. Pengunjung selain mengikuti upacara mereka datang untuk menyaksikan keindahan alam pada saat malam purnama maupun pagi hari saat matahari terbit di ufuk timur. Banyaknya pengunjung yang datang untuk menghadiri atau menyaksikan upacara tradisional tersebut secara tidak langsung merupakan wisatawan domestik maupun mancanegara. Kondisi demikian akan menambahan penghasilan bagi masyarakat setempat karena di antara mereka terjadi transaksi jual beli barang-barang dagangannya. Dengan demikian upacara tradisional Kasada yang dilaksanakan di kawasan gunung Bromo secara tidak langsung merupakan salah satu aset wisata budaya bagi pemerintah maupun masyarakat di kawasan Tengger.[8]


KESIMPULAN
Menurut ceritera, asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta brahma bernama Joko Seger. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan bersamaan mulai menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan beberapa kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian menuju di kawasan Pegunungan Tengger termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger. Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger yang Budiman”. Nama tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger.
Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak Gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan.
Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menxanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orangtua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api. kemudian peristiwa tersebut selalu diperingati oleh suku tengger yang dilaksanakan setiap pada malam 14 bulan kasada.
Disamping sebagai kegiatan ritual saja namun memiliki makna tersendiri bagi masyarakat suku Tengger dan Kabupaten Probolinggo diantaranya:
1.      Sebagai Penghormatan terhadap Leluhur
2.      Sebagai Kepatuhan
3.      Sebagai Unsur Kebersamaan dan Kerukunan  
4.      Sebagai Aset Wisata




DAFTAR PUSTAKA

Kasada, Gunung Bromo dalam Selimut Budaya diunduh dari http://travel.detik.com/read/2012/03/14/151917/1867214/1025/upacara-kasaad-gunung-bromo-dalam-selimut-budaya pada tanggal 28 Maret 2012.









[8]Tjitjik Sriwardhani. Op cit. hlm. 6-8

0 comments:

Posting Komentar