Sejarah
Upacara Yadnya Kasada
Kepercayaan
manusia Jawa terhadap gunung berapi dari zaman prasejarah sampai sekarang
memang masih kuat. Orang yang tinggal di daerah Gunung Merapi percaya bahwa ada
Kraton Mahluk Halus di gunungnya yang mirip Kraton Mataramdalam duina manusia.
Selanjutnya Kraton Mahluk Halus tersebut adalah bagian kosmologi manusia yang
lebih luas termasuk Laut Selatan, Gunung Lawu dan Khayangan, Dhepih dalam dunia
gaib dan Kraton Mataram di Yogyakarta dalam duina manusia. Rakyat yang tinggal
di desa-desa terletak di lereng Gunung Merapi yang punya kepercayaan mengenai
dunia akhirat dan roh leluhur yang pula termasuk kosmologi gaib tersebut.
Masyarakat Tengger yang percaya bahwa Gunung Bromo didiami oleh mahluk halus
serta roh leluhur yang dianggap sebagai cikal bakal manusia Tengger. Orang di
beberapa esa Tengger pula punya kepercayan mengenai dunia akhirat dan termasuk
Gunung Mahamert serta Gunung Bromo. Selanjutnya gunung di daerah Tengger juga
berarti luas untuk orang non-Tengger yang datang ke daerahnya untuk rekreasi,
upacara atau semedi seperti Upacara Kasada.[2]
Menurut
ceritera, asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa
pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri
dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah
menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta brahma
bernama Joko Seger.
Pada saat
Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan bersamaan mulai menyebarnya agama
Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan beberapa kerabatnya memutuskan
untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian menuju di kawasan Pegunungan
Tengger termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger.
Pasangan Rara
Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan
Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa
Tengger yang Budiman”. Nama tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara
Anteng dan Jaka Seger.
Kata tengger
berarti juga tenggering budi luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol
perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan
damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa
lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai
keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak Gunung Bromo untuk
bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai
keturunan.
Tiba-tiba ada
suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan
syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke
kawah Gunung Bromo. Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan
kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orangtua tetaplah
tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan
Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan
malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah
Gunung Bromo menyemburkan api.
Kesuma anak
bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo,
bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib: “Saudara-saudaraku yang
kucintai, aku telah dikorbankan oleh orangtua kita dan Hyang Widi menyelamatkan
kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan
agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang
Widi di kawah Gunung Bromo”.
Kebiasaan ini
diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger[3]
dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung
Bromo. Upacara ini berlokasi disebuah pura yang berada dibawah kaki gunung
bromo. Dan setelah itu dilanjutkan kepuncak gunung bromo. Up`cara dilakukan
pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama dibulan kasodo menurut
penanggalan jawa. Tempat untuk mengadakan upacara kasada adalah Pura Luhur
Poten Gunung Bromo, tidak seperti pemeluk hindu pada umumnya yang memiliki
candi-candi sebagai tempat ibadah. Namun poten merupakan sebidang tanah dilahan
pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara kasada. Sampai sekarang adat
istiadat ini dilakukan secara turun menurun.
Selain itu Upacara Kasada bromo juga
dilakukan untuk mengangkat seorang Tabib atau dukun disetiap desa. Agar mereka
dapat diangkat oleh para tetua adat, mereka harus bisa mengamalkan dan
menghafal mantera mantera. Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai,
mereka mengerjakan sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung
Bromo. Pada malam ke 14 bulan Kasada Masyarakat tengger berbondong bondong
dengan membawa ongkek yang berisi sesajo dari berbagai macam hasil pertanian
dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun sepuh yang
dihormati datang mereka kembali menghafal dan melafalkan mantera, tepat tengah
malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat dipoten lautan pasir
gunung bromo.
Bagi masyarakat Tengger, peranan
Dukun adalah sangat penting. Karena mereka bertugas memimpin acara – acara
ritual, perkawinan dll. Sebelum lulus mereka diwajibkan lulus ujian dengan cara
menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra. Setelah Upacara selesai,
ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah.
Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan
oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk
tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo
dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan
sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan
dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka
terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas
penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo dapat kita lihat
dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.[4]
Prosesi Yadnya Kasada
(Upacara Kasada)
Pada malam ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.
Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkimpoian dll. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan membacakan mantra-mantra.
Setelah Upacara
selesai, ongkek – ongkek[5]
yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka
melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek
moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang
tinggal dipedalaman, mereka jauh jath hari datang ke gunung bromo dan
mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka
mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam
buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima
kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas
penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo dapat kita lihat
dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.
Pada malam
ke-14[6]
Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut
Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo,
dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak
dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada
Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini
memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi jeselamatan oleh
Yang Maha Kuasa.
Upacara Kasada
diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng
Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00
dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir
Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam
bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkimpoian
dll. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan
membacakan mantra-mantra.
Dalam pelaspasan ongkek ini tidak ada
persembahyangan, baik oleh Carik maupun keluarganya. Satu hal yang unik adalah
tempat pemujaan ongkek di halaman rumah yang beralaskan tikar. Dalam tugas
pelaspasan ongkek, dukun memakai busana
khusus yaitu berkain
dan berbaju hitam, memakai
tutup kepala yang biasa dikenal dengan istilah blangkon. Dukun berselempang kain kuning yang
melintang menyilang di depan dada, yang ujungnya berisi uang kepeng dan diikatkan pada rumbai kain kuning
yang merupakan selempang tersebut. Tidak terlihat dukun memakai genta, dan setelah selesai pemujaan, ongkek masih ditempatkan di rumah Carik
sambil menunggu pemberangkatan yang dilaksanakan sekitar pukul 22.00 – 01.00
WIB.
Selanjutnya
salah satu ongkek yang telah dibuat dan
di-pelaspas di rumah Carik dipersembahkan di Dingklik (untuk desa-desa kawasan
Pasuruan) atau di Cemoro Lawang (untuk desa-desa di kawasan kabupaten
Probolinggo), sedangkan ongkek yang satunya lagi langsung dibawa ke Poten,
yakni suatu tempat berupa altar memanjang tempat para dukun melakukan pemujaan
di kaki gunung Bromo di tengah-tengah Segara Wedhi. Di tempat itu pula para
dukun mulai berdatangan, masing-masing membawa sebuah ongkek,
sangku, perapian untuk membakar kemenyan dan sesaji berupa makanan.
Pada sekitar
pukul 01.00 WIB calon dukun yang akan diuji dan dilantik telah bersiap diri.
Ujian calon dukun yang disaksikan oleh para dukun dari semua desa di kawasan
Tengger itu disebut mulunan, sedang
bentuk ujiannya adalah merapalkan mantera-mantera yang telah diajarkan oleh
ketua dukun. Seandainya apa yang telah dipelajari tersebut dapat dirapalkan
dengan baik dan dibenarkan para dukun yang hadir, maka yang bersangkutan
dinyatakan lulus dan berhak menjadi dukun, dengan ditandai pemasangan
atribut selempang kain kuning.
Sebaliknya bila yang bersangkutan salah merapalkan mantera-mantera dan
juga disalahkan oleh para
dukun, maka calon dukun diijinkan untuk mengikuti ujian lagi pada
upacara tradisional Kasada tahun berikutnya.
Atribut dukun
penguji atau dukun lainnya adalah sama, yakni memakai kain hitam atau batik hitam, berbaju hitam
dengan tutup kepala blangkon dan selempang kuning yang kedua ujungnya
ditempatkan di samping agak ke belakang dengan uang kepeng yang dimasukkan di dalamnya. Setelah
selesai pelantikan dukun baru, tibalah saatnya mempersembahkan sesaji ke
hadirat Hyang Maha Agung. Pada saat ini para dukun merapalkan mantera,
memercikkan air suci dan membakar kemenyan. Mestinya pada saat upacara
tradisional ini semua dukun harus hadir, kecuali dukun yang sedang menghadapi
pantangan hadir, misalnya jika ada seseorang yang meninggal dunia pada antara
44 hari sebelum pelaksanaan upacara Kasada.
Setelah selesai
pemujaan di Poten dan waktu telah mencapai putih wetan yaitu matahari sudah mulai terbit, maka saat
itu pula upacara ngelabuh sesaji di
kawah gunung Bromo telah selesai dilaksanakan. Setelah upacara selesai dilaksanakan oleh para dukun, maka berakhir pula upacara
tradisional Kasada, yang selalu dilaksanakan setiap tahun di kawah gunung
Bromo.
Setelah Upacara
selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke
atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan
yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis
dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke
gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan
mereka mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai
macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau
terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang
melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo
dapat kita lihat dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.[7]
Makna Dibalik Upacara Kasada
Upacara
tradisional merupakan salah satu bentuk ungkapan budaya, banyak mengandung
nilai-nilai yang dapat diteladani dan diinternalisasi oleh generasi penerus.
Pada hakekatnya sistem nilai merupakan posisi sentral dari struktur budaya
suatu masyarakat, dan sistem nilai merupakan fenomena dan problem dasar
kehidupan manusia, karena sistem nilai merupakan perangkat struktur dalam
kehidupan manusia baik secara individu maupun secara sosial. Demikian pula nilai-nilai yang terkandung
dalam upacara Kasada, merupakan fenomena dan problematik dasar dalam kehidupan
masyarakat pendukungnya, sehingga upacara ini senantiasa dilaksanakan oleh
masyarakat pendukungnya di
kawasan Tengger pada khususnya,
dan masyarakat umum yang menganggap upacara tersebut mempunyai makna
atau keunikan bagi dirinya.
Perwujudan
upacara tradisi tersebut direncanakan dan diatur segala sesuatunya lebih dahulu
yang tidak hanya memecahkan masalah manusia saja tetapi juga memmpunyai
nilai-nilai yang membangun suatu peradaban. Dengan demikian selalu mengalami
perubahan sejalan dengan roda peradaban itu sendiri, serta mempunyai arti
penting dalam kebudayaan manusia yang memberi nilai tertentu sepanjang
perjalanan sejarah manusia.
Nilai
budaya yang dapat
dipetik untuk diteladani yang diwariskan oleh nenek moyang
melalui upacara tradisional Kasada antara lain adalah sebagai berikut :
1. Sebagai Penghormatan terhadap
Leluhur
Upacara tradisional Kasada merupakan sarana
ucapan rasa syukur dari masyarakat kawasan gunung Bromo kepada Tuhan Yang Maha
Esa atas berkah dan perlindungannya karena keberhasilannya, tidak hanya menjadikan
masyarakat meningkatkan sektor
pertanian, juga perdagangan, kerajinan dan kesejahteraan hidup mereka. Pada
perkembangan selanjutnya upacara ini dikaitkan dengan cikal bakal atau sesepuh
desa sebagai pepunden-nya dalam memimpin seluruh kegiatan terkait dengan
pelaksanaan upacara tradisional, serta penghormatan terhadap perjuangan nenek
moyang (cikal bakal) masyarakat Tengger yang telah membangun dan memberikan
perlindungan terhadap hidup mereka.
2. Sebagai Kepatuhan
Dalam upacara
radisional Kasada, faktor kepatuhan nampak pada masyarakat pendukungnya secara
patuh melaksanakan upacara tersebut yang pada hakekatnya merupakan rasa syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidak mau melanggar pelaksanaan upacara ini
seperti misalnya mengganti hari pelaksanaan atau bahkan meniadakan upacara itu
sendiri. Faktor kepatuhan juga nampak pada persiapan pembuatan sesaji upacara.
Mereka secara teliti mempersiapkan macam-macam sesaji dengan lengkap, karena
kalau salah satu sesaji ada yang kurang lengkap, maka mereka mempunyai
kepercayaan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dengan adanya
faktor kepatuhan seperti tersebut di
atas secara tidak langsung masyarakat pendukung upacara ini telah
mempunyai kesadaran akan arti dari kepatuhan terhadap lingkungannya. Hal ini
apabila direfleksikan apa yang telah diperbuat oleh masyarakat pendukung
upacara tersebut, bisa dikatakan sebagai
suatu pelajaran bagi masyarakat untuk
belajar mematuhi segala aturan yang ada di lingkungannya.
3. Sebagai Unsur Kebersamaan dan
Kerukunan
Sejak persiapan
upacara sampai dengan akhir upacara banyak melibatkan masyarakat di
lingkungannya. Keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan upacara,
menunjukkan bahwa di antara mereka terjalin hubungan saling membutuhkan untuk bisa bersama-sama melaksanakan upacara.
Hal ini nampak pada saat pengumpulan bahan-bahan sesaji, pembuatan kerangka
bambu untuk pembuatan ongkek, serta
pembersihan tempat di rumah Carik. Hal ini menunjukkan adanya kebersamaan dan
kerukunan di antara masyarakat, karena di samping mereka membuat sesaji secara
perorangan juga membuat sesaji desa yang berfungsi sebagai unsur utama.
4. Sebagai Aset Wisata
Upacara
tradisional Kasada banyak mendapat perhatian dari masyarakat luas, Hal ini
terbukti dengan banyaknya pengunjung yang datang ingin menyaksikan upacara
tersebut, tidak hanya seluruh masyarakat setempat melainkan mereka yang bukan
pemeluk agama Hindu pun hadir. Pengunjung selain mengikuti upacara mereka
datang untuk menyaksikan keindahan alam pada saat malam purnama maupun pagi
hari saat matahari terbit di ufuk timur. Banyaknya pengunjung yang datang untuk
menghadiri atau menyaksikan upacara tradisional tersebut secara tidak langsung
merupakan wisatawan domestik maupun mancanegara. Kondisi demikian akan menambahan
penghasilan bagi masyarakat setempat karena di antara mereka terjadi transaksi
jual beli barang-barang dagangannya. Dengan demikian upacara tradisional Kasada
yang dilaksanakan di kawasan gunung Bromo secara tidak langsung merupakan salah
satu aset wisata budaya bagi pemerintah maupun masyarakat di kawasan Tengger.[8]
KESIMPULAN
Menurut
ceritera, asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa
pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri
dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah
menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta brahma
bernama Joko Seger. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan
bersamaan mulai menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan
beberapa kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian
menuju di kawasan Pegunungan Tengger termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka
Seger. Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah
di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya
“Penguasa Tengger yang Budiman”. Nama tengger diambil dari akhir suku kata nama
Rara Anteng dan Jaka Seger.
Dari waktu ke
waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah
merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka
Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah
untuk naik ke puncak Gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan
kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan.
Tiba-tiba ada
suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan
syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke
kawah Gunung Bromo. Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menxanggupinya dan
kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orangtua tetaplah
tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan
Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan
malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah
Gunung Bromo menyemburkan api. kemudian peristiwa tersebut selalu diperingati
oleh suku tengger yang dilaksanakan setiap pada malam 14 bulan kasada.
Disamping sebagai
kegiatan ritual saja namun memiliki makna tersendiri bagi masyarakat suku
Tengger dan Kabupaten Probolinggo diantaranya:
1. Sebagai
Penghormatan terhadap Leluhur
2. Sebagai
Kepatuhan
3. Sebagai
Unsur Kebersamaan dan Kerukunan
4. Sebagai
Aset Wisata
DAFTAR PUSTAKA
0 comments:
Posting Komentar