Pada
Agustus 2004 tepatnya tanggal berapa saya lupa orang tuaku merenovasi rumah
kecil yang sangat sederhana karena material uang ataupun bahan-bahan bangunan
dapat dikatakan pas-pasan. Untuk meminimalisir pengeluaran dana semua pasukan
anak-anaknya dikerahkan untuk membangun istanaku. Kami yang terdiri dengan 4
bersaudara pada waktu itu dan aku adalah anak pertama, kebetulan juga ayahku
berprofesi tukang bangunan sehingga dirasa mampu membangun rumah tersebut tanpa
membayar orang lain.
Bekerja
dari pagi hingga sore ternyata sungguh melelahkan, maka dengan sendirinya
keringat ini bercucuran. Bergegas saja aku mengambil posisi untuk menyantap
masakan dari ibuku tercinta bersama keluarga, baru mengambil posisi duduk
secara tiba-tiba serangan komentar datang bertubi-tubi dari keluargaku.
“Yan
keringet lu baunya kayak baba Napi” kata ibuku.
“Iya
bener, ih bau bangat” sahut dari adik-adikku.
Anjing
menggonggong kafilah berlalu. Pribahasa tersebut yang aku terapkan pada saat
itu karena cacing-cacing di perut ini berdemonstrasi agar perut ini segera
diisi, selain itu aku tidak merasa bahwa keringatku seperti yang mereka katakan.
Suara
azan magrib pun terdengar saling bersahutan, bergegaslah aku mandi kemudian
melaksanakan solat di Musola yang bersebelahan dengan rumah. Tiba-tiba aku
ngidam gorengan akhirnya setelah solat saya pergi ke warung kopi milik saudara
dari almarhum kakekku. Tidak disangka, ternyata bau keringatku tidak hilang
walau sudah mandi. Mungkin karena aku mandi tidak pakai sabun dan hanya disiram
saja badan ini dengan kurang lebih 5 gayung air. Komentar pun datang lagi dari
pemilik warungnya.
“Yan.
keringet lu kok bau bangat, baunya mirip bangat sama keringetnya Baba Napi”
kata si pemilik warung.
Aku
hanya diam sambil tersenyum mendengar komentar darinya, sehabis membeli
gorangan istana sederhanaku adalah tujuanku selanjutnya, sambil berjalan aku
memikirkan komentar orang-orang mengenai keringatku menurut mereka memiliki
kesamaan dengan bau tubuh almarhum kakekku sewaktu hidup. Tapi aku kiranya
tidak akan peduli mengenai ungkapan bau dan disamakan dengan almarhum, karena
menurutku kakekku adalah orang yang paling baik yang pernah aku temui baik
terhadapku, aku lebih dekat dengan almarhum bahkan dibandingkan orang tuaku
sendiri, sehingga aku menganggap ini adalah aroma almarhum, walau terkadang
merasa tidak nyaman dengan komentar orang lain aku tetap merasa senang masih
ada yang bisa mengingatkan aku dengan almarhum.
Almarhum
bernama Hanafi meninggal pada tanggal 11 Mei 2004, sehari sebelumnya kami
bertengkar sehingga terasa menyesal sekali ketika mengetahui keesokan harinya
beliau telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Semasa hidupnya almarhum
adalah seorang kakek yang penuh semangat bekerja walau usianya sudah diatas 70
tahun, beliau tidak ingin hidupnya berasal dari pemberian karena kasihan dari
orang lain dan dia juga terkenal karena kesabarannya di lingkungan tetangga. Orang
yang paling dekat dengan beliau adalah aku bahkan bila dibandingkan dengan
anak-anaknya, karena hal inilah yang membuat aku merasa bangga dengan aroma tubuhku
saat berkeringat yang disamakan dengan beliau.
Hingga
saat ini setiap aku menghirup aroma tubuhku aku selalu teringat dengan
almarhum, Semoga Engkau diterima segala amal perbuatannya walau sekecil apapun,
dihapus segala dosanya sebesar apapun dan ditempat di tempat yang terbaik
oleh-Nya…. Aaamiiiiiin.