![]() |
gambar ini diambil dari http://apikecil.wordpress.com |
di
timur matahari…. Mulai bercahaya….
Bangun
dan berdiri, kawan semua….
Marilah
mengatur barisan kita….
Seluruh
pemuda Indonesia…
Lantunan
lagu Di Timur Matahari yang teriring
menghantarkan kepergian sang Patriot bangsa menuju alam yang baru. Sang Patriot
meninggalkan tangis, meninggalkan keluarga, meninggalkan perajuritnya, dan
meninggalkan bangsanya. Namun nama dan semangatnya akan hidup untuk selamanya
untuk Jember dan untuk Indonesa yang merdeka. Sang Patriot tersebut adalah
Mochammad Sroedji namanya terukir dalam sejarah dan hati rakyat Jember.
Kisahnya
diabadikan dalam sebuah Novel berjudul SANG PATRIOT yang ditulis oleh Irma
Devita, tidak lain adalah cucu dari Mochammad Sroedji. Sebuah novel yang
didasarkan atas sejarah sesungguhnya dan menjadikan ini sebagai kisah sejarah
mengenai kehidupan Sroedji yang lengkap dengan penyajian dalam bentuk sastra.
Novel
yang dapat mengalirkan air mata dan menggetarkan hati bagi para pembacanya.
Sebuah kisah dengan penuh romantisme dan aksi heroik. Ketulusan cinta Rukmini
terhadap Sroedji bagaikan kisah Rama dan
Sinta dalam epik Ramayana, dimana Cinta datang untuk menguatkan satu
sama lain dan tetap tegar walau harus berkorban jiwa maupun raga mungkin
ungkapan tersebut yang cocok kisah cinta mereka atau bagaikan kisah cinta fenomenal Habibi dan Ainun. Cinta
mereka kini terbatas oleh batu nisan yang menandai tertidurnya sesosok patriot
yang memberikan kehidupan menjadi lebih berwarna.
*****
Kisah
Seorang anak keturunan dari pulau garam (Madura) tepatnya di bangkalan pada
tanggal 1 Februari 1915 dari pernikahan Hasan dan Amni. Sroedji menikah dengan Rukmini seorang
keturunan ningrat anak dari pasangan Tajib Nistisamito dan Maryam yang juga
berasal dari Pulau Madura tepatnya di Sampang. Pernikahan yang melalui proses
perjodohan tersebut dimana mereka tidak mengenal satu sama lain, yang ada
hanyalah pertemuan singkat yang terjadi di pasar Malang. Kehidupan keluarga
mereka dipenuhi dengan cinta setiap harinya sehingga semuanya berjalan harmonis.
Mereka dikarunia empat orang anak yang
diberi nama Sucahyo (Cuk) dan Supomo (Pom), Tuti dan Puji.
Ketika
Jepang berubah menjadi Negara yang maju dan diimbangi dengan militer yang kuat,
dengan semangat Hakko Ichiu kekaisaran
Jepang ingin menguasai seluruh Asia bahkan seluruh dunia termasuk Indonesia.
Selain tempatnya yang strategis sebagai pertahanan dalam perang pasifik, Jepang
juga menginginkan sumber daya alamnya terutama yang dapat digunakan sebagai
bahan bakar kebutuhan industri. Namun pada waktu itu Indonesia masih dikuasai
oleh Belanda sehingga untuk mendapatkan semuanya itu Jepang harus mengusir
bangsa Eropa tersebut yang singgah lebih dulu.
Pada
tahun 1942 terjadi perpindahkuasaan atas Indonesia dari pemerintah Belanda ke
tangan Jepang. Namun pada akhir 1942 sekutu (termasu di dalamnya Belanda) menyerang
balik Jepang di berbagai daerah jajahanya, mengakibatkan Jepang membutuhkan
banyak personel untuk menangkal serangan tersebut yaitu dengan cara
memanfaatkan Negara jajahannya untuk direkuit menjadi militer untuk di taruh di
garis depan termasuk Indonesia. Adapun lembaga yang didirikan untuk merekrut
rakyat Indonesia untuk masuk dalam militer adalah Jawa Hokokai, Sinendan, Heiho, Fujinkai, Jibakutai dan PETA.
Berita
pengrekrutan itu sampai di telinga Sroedji melalui surat kabar Djawa Baroe. Pengrekrutan Pembela Tanah
Air (PETA), tentu ini menjadi angin segar yang tertiup ke arahnya, sebuah untuk menjadi seorang tentara sepertinya
sudah ada di depan mata, keinginannya untuk membela tanah air tentu menjadi
motivasi utamanya. Bukan hal yang mudah untuk menjadi anggota PETA terlebih
Sroedji sudah memiliki istri dan dua orang anak pada waktu itu. Kemudian
Sroedji mendiskusikannya dengan Rukmini mengenai keinginannya untuk menjadi
tentara PETA hingga akhirnya Rukmini mengizinkan suaminya pergi ke Bogor untuk
ikut pendidikan PETA.
Inilah
awal kisah cinta mereka diuji, ketika Rukmini harus mengikhlaskan suaminya
memadu cinta antara cintanya terhadap keluarga dengan cintanya terhadap
negaranya. Butuh hati yang berjiwa besar untuk dapat melakukan seperti dilakukan
Rukmini, menjadi tentara tentu sangatlah dekat dengan peperangan apalgi
peperangan pada zaman tersebut merupakan hal yang lumrah, semakin dekat dengan
peperang berarti semakin dekat pula dengan kehilangan. Namun Rukmini sadar
bahwa apa yang dilakukan oleh suaminya adalah sebuah perjuangan untuk negaranya
dan anak cucunya nanti. Program
pendidikan PETA telah dilalui Sroedji dan dia mendapatkan pangkat sebagai Chuudanchoo yang di tempatkan di Jember
sekaligus merekrut rakyat Jember untuk menjadi tentara PETA.
Pada
tahun 1945 posisi Jepang dalam perang pasifik semakin terdesak, dan puncaknya
adalah setelah Sekutu berhasil menjatuhkan Bom Atom di kota Hiroshima dan
Nagasaki pada tanggal 6 dan 8 Agustus 1945, kemudian diikuti dengan perjanjian
menyerahnya Jepan terhadap Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Kekalahan
Jepang juga berpengaruh terhadap Negara-negara jajahannya termasuk Indonesia
bahkan lembaga-lembaga Jepang yang ada di Indonesia dibubarkan termasuk PETA.
Melihat
keadaan tersebut Ir. Soekarno memiliki inisiatif untuk membentuk tentara
militer untuk Negara yang baru memproklamirkan kemerdekaan ini pada tanggal 17
Agustus 945, yaitu dengan merekrut kembali tentara-tentara yang pernah dibentuk
pada zaman Jepang yang diberi nama Badan Keamanan Rakyat selain itu mengganti
kepangkatan seperti Daidanchho,
Chudanchoo, Shoodanchoo, dan
Budanchoo berubah menjadi Kolonel, Mayor, Kapten, Letnan satu dan Letnan
dua. Pada tanggal 5 Oktober 1945 BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat
(TKR) dimana Sroedji menjabat sebagai Komandan Bantalion Sroedji Resimen IV/TKR
Divisi VII Untung Surapati.
Kekalahan
Jepang mengakibatkan kembalinya Belanda ke tanah air Indonesia. Berbeda dari
periode sebelumnya, pada masa ini rakyat Indonesia telah memproklamirkan
kemerdekaan negaranya, hal inilah yang menjadi pemompa semngat rakyat Indoensia
untuk mempertahankan kemerdekaannya, yang terjadi adalah banyak peperangan yang
terjadi di Indonesia. Hal ini juga mengakibatkan Sroedji sering meninggalkan
keluarganya dalam jangaka waktu yang lama untuk tanah airnya.
Di
sisi lain Rukmini juga berjuang untuk menjadi seorang ibu sekaligus sebagai
ayah yang kini telah memiliki tiga orang anak. Kondisi perang mengakibatkan perekonomian
semakin memburuk yang barakibat terhadap kondisi sosial masyarakat di
sekitarnya, tentu hal ini menjadi ancaman bagi seorang ibu nikah muda yang
ditinggal suaminya, bahkan pernah rumahnya distroni oleh maling dengan jumlah
yang besar. Dalam doa dan kekhawatiranya dia selalu ada nama suaminya yang
sedang berjuang.
Rasa
rindu itu tidak hanya dirasakan Rukmini, keriduan yang besarpun dirasakan
Sroedji, sesekali diapun pulang ke rumahnya untuk melihat keluarganya sekaligus
mengobati rasa rindunya yang mendalam. Ketika betemu perasaan bahagiapun
menyelimuti dunia mereka, namun sroedji adalah prajurit yang professional
dimana dia rela mengorbankan kepentingan pribadi dan mengutamakan pasukan yang
dikomandoinya.
Kontribusi
Sroedji dalam perang terhadap KNIL memberikan kekhawtiran bagi sekutu, seperti
keberhasilannya menahan gempuran KNIL pada saat pertempuran Surabaya pada bulan
November 1945, dimana Sroedji berhasil menghalangi mereka untuk masuk ke
wilayah selatan Surabaya sehingga KNIL tidak dapa masuk ke daerah-daerah
seperti Lumajang, Klakah, Jember dan lain sebagainya. Selain itu geriliyawannya
berhasil membuat risau tentera-terna KNIL. Karena geram, KNIL memiliki rencana
licik untuk menculik keluraga-keluarga para pejuang.
Kemudian
Sroedji memerintahkan pasukannya untuk menjemput Rukmini dan mengajaknya hijrah
ke Kediri, hal tersebut dikarenakan kekhawatiran Jember telah dikuasai Belanda,
khawatir mereka akan diculik dan dijadikan tahanan. Pada awalnya Rukmini
meragukan akan melaksanakan perintah tersebut terlebih Rukmini dalam kondisi
hamil ditambah dia membawa ketiga anaknya yang masih kecil. Namun pada akhirnya
Rukmini menyadari bahwa hal tersebut dilakukan atas pertimbangan yang matang
oleh suaminya. Membawa bekal secukupnya dan perhiasanya Rukmini menyusuri hutan
belantara berjalan kaki dari Jember ke Kediri dalam kondisi hamil.
Perpisahan
itu semakin dekat, ketika perjanjian Renvile yang mengakibatkan wilayah
Indonesia semakin sempit dan hanya meliputi Jawa Tengah bahkan semarangpun
dikuasai oleh Belanda. Ketika Jenderal Besar Soedirman menginstruksikan seluruh
anggota TNI untuk menyusup diam-diam melewati garis van mook (garis yang perbatasan antara Negara Republik Indonesia
dengan Negara-negara boneka buatan Belanda). Jika TNI berhasil masuk maka akan
dilakukan serangan kejutan dari dalam wilayah Belanda sendiri yang dikenal
dengan wingite action. Strategi wingate mengubah kesatuan-kesatuan untuk
membentuk pertahanan linier. Di setiap distrik militer dibentuk pemerintahan
geriliya, dengan sistem whekreise membentuk
kantung-kantung geriliya yang berpusat di daerah pegunungan.
Sroedji
diperintahkan untuk melakukan wingite
action, menyusup ke Besuki dengan menghadapi front Malang, Lumajang,
Klakah, Jember sampai Banyuwangi. Bersama pasukan dan keluarga pasukannya yang
ikut dalam perjalanan ini (namun Rukmini tidak ikut dalam misi tersebut)
menelusuri kerasnya hutan bahkan Gunung Semeru yang sering menyemburkan lahar
dingin menjadi tantangan bagi mereka. Siang
mereka melakukan pergerakan sedangkan malam dijadikan waktu istirahat atau
penyerangan terhadap Belanda. Sering juga terjadi serangan mendadak dari
Belanda akibat Somad sang penghianat yang ikut dalam perjalanan tersebut,
sehingga Belanda dapat mengetahui posisi Sroedji dan pasukannya.
Setelah
menempuh jarak sejauh lima ratus kilometer dalam jangka waktu 51 hari akhirnya wingite action selesai sudah. Namun hal
tersebut menjadi misi terakhir yang berhasil diselesaikannya, karena penghiatan
Somad yang membocorkan informasi adanya pertemuan di Karang kedawung kepada
pihak Belanda. Dengan ratusan prajurit, Belanda mengepung tempat pertemuan
mereka.
Karang
Kedawung banjir darah dan air mata menyusul kepergian seorang pemipin yang
mereka segani, bijak, ramah dan penuh semangat juang kini meninggalkan bumi
pertiwi dari letusan senapan pasukan Belanda. Kegeraman Belanda terhadap
Sroedji tidak hanya terbatas samapai disana, ketika diketahui Sroedji telah
tewas mayatnya tidak langsung dimakamkan melainkan disiksa beberapa organ
tubuhnya dimutilasi kemudian mayatnya harus merasakan teriknya matahari dan
dinginnya malam yang di tempatkan di pelataran Hotel Djember.
Sebulan
kemudian berita kematian Sroedji baru diketahui oleh Rukmini. Betapa hancurnya
hati Rukmini mendengar berita tersebut. Sekarang yang tersisa hanyalah
kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.
“suamiku… istirahatlah kau di sana. Aku
selalu mencintaimu. Aku janji, akan membesarkan anak-anak kita. Mereka akan
menjadi orang-orang hebat sepertimu, pak. Tunggu aku di pintu surga kelak, pak”. ungkap Rukmini ketika di pemakaman suaminya.