Pages

Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label Jember. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jember. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2013

Lomba Blog Universitas Jember Jadi Ajang Duel Panas Dunia Maya



Lomba Blog Universitas Jember  Jadi Ajang Duel Panas Dunia Maya


        Lomba blog Universitas Jember yang diselenggarakan oleh HIMASIF PSSI Universitas Jember sudah semakin dekat untuk penentuan siapa pemenangnya. Rasanya seperti Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pasca Perang Dunia 2. Saling pantau, saling mengatur strategi, saling memata-matai dan sbagainya untuk dapat mengalahkan musuh. Setiap buka internet langsung tancap mantra “Lomba Blog Universitas Jember” sambil komat-kamit “naik, naik, naik, naik” (maksudnya naik posisi di halaman pertama waktu mbah google nyari mantra tersebut).
        Mbah google terkadang baik hati namun sering mengecewakan, naik turun terus posisi blogku, malah terkadang lebih sering turun. Mungkin kurang menyan dan mandi kembang tujuh rupa untuk menaikkan posisi. Tapi kalo dipikir-pikir google mana bisa disantet, andai saja google bisa disantet pasti dukun level internasional sudah pasti menjadi tujuan utama agar bisa memenangkan lomba, akhirnya terpaksa jurus ampuh dikeluarkan yaitu DO’a orang tua.
        Maaf tadi agi ngawur soalnya gak naik-naik blognya. Menang kalah itu sudah menjadi hal biasa, menang dapat hadiah kalah dapat pengalaman yang luar biasa bagaiman bersaing dengan para bloger-bloger handal selama kurang lebih satu bulan. Bukan berarti pasrah namun tetap berusaha selama perang belum usai.


        SEO adalah salah satu kriteria penilaian dewan hakim (dewan Juri maksudnya) sekaligus penilaian yang paling mudah diamati oleh peserta-peserta lainnya yang berasal dari Universitas Jember tanpa harus menunggu dewan juri menilai. Pada hari-hari sebelumnya ada beberapa peserta yang menempati halaman pertama, perubahannyapun dalam satu hari tidak begitu terlihat.
lomba blog universitas jember
pencahrian melalui web browser Opera
        Persaingan dalam kompetisi ini sangatlah sehat dimana kita harus mencari strategi bagaimana caranya agar dapat merayu mbah google untuk menempatkan tulisan atau blog kita di posisi teratas miniman masuk dalam top 10. Adapaun berbagai cara yang dilakukan oleh para peserta diantaranya mengeshare di akun-akun social, menggunakan trik-trik agar mengena ke kata kunci, tukar link, masuk ke blog lain sekaligus meninggalkan jejak alamat blog, dan lain sebagainya.
lomba blog universitas jember
pencaharian melalui web browser intrernet Explorer
          Semakin dekat dengan waktu penilaian pemenang, jangankan dalam satu hari dalam hitungan jam posisi selalu berubah-ubah, yang biasanya selalu berada di posisi pertama mulai tergeser oleh peringkat yang ada dibawahnya satu tingkat ataupun sangat jauh pada waktu sebelumnya. bahkan setiap web browser seperti google chrome, mozila firefox, opera dan lain sebagainya memberikan hasil yang berbeda-beda Kata Mas Oby itu yang dinamakan google dance. Jadi memang posisinya akan terus berubah namun dalam satu hari biasanya posisinya mulai stabil.
lomba blog universitas jember
pencaharian melalui web browser Google Chrome
        Rasanya tida sabar menunggu tanggal 25 Juni 2013 yang dijadikan sebagai tanggal sakral bagi para kontestan, karena pada tanggal tersebutlah diambil 10 besar dari sekian ratus peserta untuk mempresentasikan blog mereka masing-masing. Sekaligus diketahuinya juara 1, 2, 3 oleh dewan juri yang dipilih oleh HIMASIF dan Juara Favorit yang dipilih oleh sponsor utama TELKOMSEL.

Rabu, 12 Juni 2013

Sejarah Unej : Habis Gelap Terbitlah Terang

Sejarah Unej
suasana peresmian gedung fakultas sastra 1976
 (foto diambil dari buku DPRD Dalam Perkembangan Kabupaten Jember buku II)
Ungkapan kata-kata tersebut sepertinya tidak asing di telingan siapapun, sebuah buku yang diterbitkan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia R.A. Kartini, sebagai ucapan terimakasih kepada beliau setiap tanggal 21 April dirayakan sebagai hari kartini yang tidak lain adalah hari kelahirannya. Perlu diperhatikan tulisan ini tidak menceritakan tentang Kartini ataupun sejarahnya, saya menghubungkan istilah Habis Gelap Terbitlah Terang merujuk kepada Tegal Boto.
             Apa hubungannya Tegal Boto dengan istilah tersebut?
            Kali ini dan lagi-lagi saya akan membahas masalah sejarah Universitas Jember, sebelum dijadikan sebagai masterplan plan kawasan kampus, Tegal Boto merupakan suatu hunian yang rawan diantaranya adalah masalah penyamunan. Saya kira bukanlah hal yang mustahil sebab kawasan Tegal Boto bagaikan pulau yang terisolasi dan gelap pada waktu itu. Diapit oleh dua sungai besar yaitu sungai Bedadung dan sungai Antirogo yang ketika hujan besar tentu tidak dapat dilewati.
            Bagaikan kota mati jika hujan terus-menerus, hal tersebutlah yang mendorong masyarakat Tegal Boto melakukan berbagai cara agar daerah mereka tetap terhubung dalam kondisi apapun diantaranya dengan membuat getek (perahu kecil) dan membangun beberapa jembatan sederhana yang terbuat dari bambu (geladak sesak). Jika dibayangkan betapa terpencilnya Tegal Boto pada waktu itu, padahal jika dipikirkan jarak antara Tegal Boto dengan pusat pemerintahan (alun-alun) tidak terlalu jauh namun kondisinya sangat memperihatinkan, aksestabilitaslah yang menjadi faktor utama dalam tragedi ini.
            Kawasan Tegal Boto mulai terasa seperti hidup ketika daerah tersebut ditetapkan sebagai kawasan kampus sejak zaman Bupati Soedjarwo (Bupati Botol Kosong), yang kemudian didukung oleh Pemda Kabupaten Jember yang menjadi daerah isolasi tersebut menjadi pusat pendidikan dan sebagai kota Satelit kedua bagi wilayah Jember seperti yang terdapat dalam Master Plan Kabupaten Jember.
            Mulailah pembangunan akses masuk dibuat seperti pembangunan jembatan Soedjarwo oleh CV Dayat kemudian dilanjutkan pembangunan jembatan semanggi oleh Pemkab Jember.  Dari pihak universitas yang dimotori oleh Soetardjo untuk meminta bantuan dana dari pemerintah pusat dan berhasil sehingga didirikanlah beberapa bangunan perkuliahan dalam satu lokasi seperti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1972), Fakultas Sastra (1976), gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) (1976), Sport Hall, Perpustakaan, Masjid dan lain sebagainya.
            Mulai saat itulah daerah yang “gelap” berubah menjadi “terang”, daerah yang sebelumnya tempat penyamun kini menjadi daerah pendidikan, daerah yang dulunya sepi kini menjadi daerah yang ramai pengunjungnnya. Daerah terisolasi kini menjadi daerah yang terbuka. Salah satu faktornya tidak lain adalah karena adanya UniversitasJember.

“Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan – angan muda mati, kadang – kadang timbullah angan – angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah.” (R.A. Kartini)

Rabu, 05 Juni 2013

Unej : Sejarah Universitas Jember (Gedung Kuliah Pertama Berubah Fungsi)



Sejarah Unej
Gedung Nasional Indonesia


Penasaran dengan Gedung Nasional Indonesia (GNI) yang terinspirasi dari kaledoiskope Unej yang menceritakan tentang evolusi UniversitasJember mulai dari kelahirannya yang diberi nama Unita (universitas Tawang Alun), kemudian remaja menjai Universitas Negeri Jember, hingga dewasa dikenal Universitas Jember. 

Ada satu hal yang menarik ketika baru pertama kali Universitas Tawang Alun membuka pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 1957/1958 Kegiatan pendaftaran penerimaan calon mahasiswa sudah terlaksana dan sudah mendapatkan beberapa calon mahasiswa, namun belum juga terlaksana suasana kegiatan perkuliahan dengan alasan Universitas Tawang Alun secara resmi keberadaannya masih belum diakui, para calon mahasiswa sudah tidak sabar ingin mengecup manisnya bangku perkuliahan harus rela menunggu kepastian merubah status mereka menjadi mahasiswa. 
Pada hari minggu tanggal 3 November 1957 para calon mahasiswa yang dipimpin oleh Alwi Gelar Raja Mangkuto mendesak agar pihak yayasan segera meresmikan berdirinya Universitas tersebut, dengan demikian maka kegiatan perkuliahan bisa segera dimulai. Apa yang para calon mahasiswa lakukan ternyata berbuah manis keesokan harinya tepat hari senin tanggal 4 November 1957 dilaksanakan kuliah pertama di Ruang Taman Bacaan Rakyat Gedung Nasional Indonesia atas pinjaman dari M. Soemardi Mangondarmodjo yang diikuti sebanyak 18 mahasiswa.

sejarah Unej
GNI tampak dari depan
Itulah sekilas sejarah GNI yang dijadikan tempat kuliah pertama, sungguh terkejut ketika melihat saat ini spanduk besar partai politik terpampang. Dengan murah senyumnya foto besar itu tersenyum kepada setiap orang yang lewat di depannya. Dibawah foto orang tersenyum itu ada tulisan GNI Futsal, saya sendiri jadi tambah pusing setahu saya kalo emang itu lapang futsal di depannya minimal ada gambar bola minimal tapi kok malah gambarnya orang senyum. Apa mungkin sekarang yang dinamakan bermain futsalan adalah bermain senyum-senyuman sudah bukan bermain bola lagi?
Sejarah Unej
GNI dari samping sebelah kanan
Akhirnya daripada pusing dengan tulisan yang ada halaman depan saya melanjutkan perjalanan mengelilingi gedung tersebut, kemudian laju sepeda ini terhenti melihat sebuah kedai sederhana dengan Tulisan “ES KELAPA” yang berada tepat di sebelah kiri gedung. Bagaikan melihat oase di gurun pasir tanpa piker panjang aku tarik badan ini menuju kedai tersebut.
Cak Lie nama pemiliknya hal itu aku ketahui karena melihat banner besar bertuliskan Cak Lie. Aku pesan satu gelas es kelapa minum di TKP (Tempat Kejadian Pembelian) alias makan di tempat. Mungkin karena aku soerang diri dan terlihat seperti orang tak tau arah jalan pulang (tersesat). Dia pun melontarakan beberapa pertanyaan kepadaku sehingga mengakibatkan perbincangan yang cukup panjang kali lebar. Dengan sengaja pula aku menyisipkan pertanyaan mengenai GNI untuk mengetahui gedung tersebut dalam perbincangan kami karena secara pengauannya dia merupakan penduduk asli daerah tersebut.
Informasi yang saya dapatkan bahwa sebelumnya gedung ini merupakan gedung bioskop yang sangat ramai sebelumnya hingga pada akhirnya bioskop ini gulung tikar, kemudian  memunculkan nama Gi Xing si penyewa gedung tersebut saat ini. Ini adalah kesimpulan informasi yang saya dapatkan dari beliau.  Namun sayang sekali ketika saya memberi informasi bahwa dulu ketika Unej belum memiliki gedung perkuliahan maka gedung ini yang digunakan beliau tidak tahu karena memang Cak Lie belum lahir. Kemudian saya diajak masuk ke dalam gedung tersebut, gedung ini terdapat dua bidang yang berbeda belakang olah raga depan politik. Pada bagian belakang sisa-sisa kalau ini bekas gedung bioskop ternyata masih terlihat diantaranya adalah langit-langit yang berada di atas lapangan yang masih banyak soundsystem terpasang, sedangkan bagian depan tembok-temboknya sudah ber-cat partai. Setelah masuk ke dalam saya langsung berpamitan dan tancap gas untuk kembali ke sekretariat SWAPENKA.
Catatan penting dari mencari informasi saat pada waktu itu adalah, ternyata gedung yang memiliki sejarah perkuliahan pertama Universitas Kebanggaan Jember sekarang menjadi gedung lapangan futsal dan sekretariat partai politik. Gedung tersebut digunakan perkuliahan cukup lama yaitu mulai tanggal 4 November 1957 hingga 23 Mei 1959. Gedung tersebut ditinggalkan dari kegiatan perkuliahan dikarenakan ruangan tersebut ingin digunakan kembali sebagai Ruang Taman Bacaan Rakyat kemudian perkuliahan dipindahkan ke gedung SMP Katolik Santo Petrus.




Senin, 03 Juni 2013

LOGO UNEJ 2: MAKNA LOGO UNIVERSITAS JEMBER


             Pernah aku bertanya kepada beberapa teman-temanku baik satu angkatan ataupun angkatan tua diatasku mengenai logo Universitas Jember yang sering kali kita lihat atau kita gunakan dalam surat menyurat ataupun proposal kegiatan organisasi, di cover skripsi dan lain sebagainya tidak ada yang mengerti ataupun mengetahui mengenai makna lambang tersebut.
            Keingintahuan tersebut akhirnya mendorong pencarian informasi

logo unej
logo awal uned sebelum jadi universitas jember dimana daun tembakau ketiga terlihat begitu jelas
mengenai makna dari lambang-lambang yang ada di dalam logo Universitas Jember. Sejak terbentuknya Universitas Negeri Djember (Uned: masih ejaan lama) kemudian terpikir untuk membuat suatu lambang dan bendera sebagai identitas dari suatu lembaga. Belum diketahui siapa yang menciptakan logo tersebut, namun saya akan berbagi informasi mengenai makna lambang tersebut.
logo unej


1.  Tiga lembar daun tembakau yang melambangkan Tri Dharma perguruan tinggi, yakni Pendidikan dan Pengabdian, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

2. Daun tembakau, padi, dan jagung melambangkan kesuburan wilayah besuki sebagai daerah pertanian dan perkebunan yang menghasilkan tembakau eksport.

3. Tangkai pengikat melambangkan panca brata meliputi rasio, jiwa, idealism, etika dan realism.

4. Lidah api melambangkan semangat juang masyarakat besuki yang membekali terwujudnya Uned.   

5. Tujuh butir padi melambangkan tujuh orang yang pernah duduk dalam panitia tujuh yang dibentuk oleh menteri PTIP tahun 1962.

6. Segi lima sebagai wadah atau bingkai gambar yang melambangkan dasar Negara, yakni Pancasila.

Terus kenapa kok harus ada warna kuning, hitam, dan hijau. Kenapa warnanya tidak warna-warni saja biar seperti pelangi lebih berwarna?
Hmmmm.. jangan salah warna-warna dari lambing tersebut memiliki filosofis tersendiri lho…
- Warna hitam melambangkan ketegasan dan kesuburan dalam ilmu pengetahuan.
- Warna hijau melambangkan kesuburan dan kesegaran jiwa.
- Warna kuning melambangkan kesucian bagi umat yang mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.

Ternyata sekelumit itu melihat logo Unej yang sangat simple ternyata memiliki makna yang sangat dalam, yang melebur dalam suatu harapan yang luhur untuk mencerdaskan kehidupan bangsa khsusnya rakyat Besuki melalui pendidikan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Jumat, 29 Maret 2013

Galau Tingkat Jember


industri

Ketika petama kali datang ke Jember ada sesuatu yang mengganjal pemandangan ini bukanlah debu ataupun kerikil yang mengumpat di sela-sela mataku,namun rasa aneh ditambah tidak percaya saat melintas Sungai Bedadung saya melihat seorang bidadari tahun tahun 70-an sedang asyik menikmati dinginnya air Bedadung tanpa busana. Perasaan bimbangpun datang secara tiba-tiba kata orang ini namanya rezeki tapi kataku ini kurang beruntung karena target sasaran pandang kurang muda.
industri di jember        Beberapa hari kemudian aku lewat sungai tersebut lagi dengan tempat yang berbeda, kali ini bukan bidadari yang aku lihat melainkan anak-anak kecil yang bercanda ria tanpa busana juga dan terakhir aku pergi ke salah satu desa yang ada di Jember yaitu Desa Gunung Pasang Kecamatan Panti. Di desa tersebut ada sebuah sungai yang dijadikan sebagai kolam dimana mereka penuh suka cita menikmati hidup masa kecilnya dengan berenang bersama teman-teman di sungai yang jernih, di sisi lain bila menengok ke kota orang-orang pemangku amanah rakyat sedang riuh ramai beradu argumen mengenai Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah Jember 2011-2031. Perda yang diusulkan sangat menguntungkan sekali, namun sayang keuntungan besar tesebut hanya dimiliki para pemilik modal melalui penyediaan lahan tambang emas, perak, tembaga, galena, mangan, pasir besi, migas, dan lain sebagainya ditambah industri di beberapa tempat di Jember.
         Sungguh kaya Jember dengan kekayaan alam melimpah dan juga pemandangan-pemandangan yang dapat memanjakan mata saat ini. Apabila Perda tersebut disahkan dengan hasil yang diajukan tersebut maka saat berjalan-jalan di Jember akan ditemui gumpalan-gumpalan asap industri yang saling antri menuju ke awan dan juga bahan-bahan pembuangan tambang atau industi yang berenang renang di sungai dan menyelinap di tanah-tanah. Terkadang keuntungan ekonomi yang terbatas atau hanya beberapa tahun saja dijadikan sebagai patokan utama dalam hal pembangunan tanpa memikirkan dampak ekologi yang sangat lama dan penuh dengan usaha keras untuk memperbaikinya atau mungkin sudah tidak dapat diperbaiki karena punah seperti rusaknya tanah, hutan, udara, sungai, danau, satwa, flora ataupun manusia itu sendiri.
        Sangat memilukan sekali apabila bila harus mendengar beberapa fauna, flora dan anak cucu kita pada masa depan harus menanggung ini semua, hanya karena karena ketokan palu pemberi kebijakan.  Apakah anak cucu kita nanti bisa menghirup udara bersih dari asap-asap pembakaran, makan, minum dan mandi dengan air yang bersih tanpa tercampur merkuri ataupun zat-zat kimia lainnya, tanah-tanah yang dapat ditanami, atau ikan-ikan bisa bebas berenang bebas di sungai tanpa harus bersaing dengan sampah-sampah serta ditemani zat-zat kimia, flora-flora yang bisa hidup tenang tanpa harus stress memikirkan bagaimana menghindar dari ulah-ulah manusia.
        Aku teringat dengan kota kelahiranku yang berbasis industri dan sebagai satelit dari ibu kota. Sebuah daerah yang panas seakan-akan berada di gurun pasir memiliki pepohonan. Asap industri yang menggumpal di daerah kawasan dan sungai-sungai yang berwana hijau tua dan berbau busuk yang dipenuhi oleh sampah-sampah rumah tangga dan industri, karena inilah aku merasa aneh dengan Jember saat melintas di sungai Bedadung begitu dekatnya sungai-sungai bagi warganya sehingga sungai masih dimanfaatkan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga, warga kota juga begitu dekatnya dengan sungai sehingga mereka memanfaatkan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Bagaimana keinginan mereka mengenai bebas banjir dapat teselesaikan sedangkan paradigma sebagian besar masyarakat seperti itu.
        Sekarang aku juga khawatir adanya konspirasi baik di tingkat DPR ataupun di kalangan masyarakat dengan pihak-pihak tertentu, mendengar informasi dari Cak Giri yang mengatakan bahwa yang menentang adanya industri dan pertambangan hanya ada satu fraksi. Sangat disayangkan ternyata penglihatan orang-orang pengambil kebijakan hanya peka terhadap yang berkaitan dengan ekonomi atau hanya untuk golongan-gollongan tertentu yang pro ataupun memiliki andil terhadap keberadaan mereka saat ini. Di sisi lain seorang pemimpin Jember yang selalu mengundang kontroversial dari kata-kata yang terlontar seperti seperti “apabila Nuklir ingin di taruh di Jember. Jember siap”,  dan juga ingin mengurangi lahan pertanian dan lain sebagainya.
        Di kalangan masyarakat aku khawatir dimana ada beberapa orang yang mampu dilemahkan dengan uang dan hanya mampu berpandangan jangka pendek, sulit memang untuk melihat dari masyarakat di sisi lain kita hanya mengkritik mereka dalam hal ini sedangkan kita tidak dapat membantu mereka. Namun yang menjadi hati semakin panas adalah mereka dijadikan sebagai alat untuk memperkuat keinginan dari orang-orang tertentu dengan mengadu domba mereka.
                 
         
         Kebijakan ekonomi diimbangi dengan ekologi adalah prospek kehidupan yang makmur sesungguhnya untuk masa depan…
        Tidak ada salahnya kita membela lingkungan (mujahidin lingkungan), jangan sampai kata-kata pepatah yang sering kita dengar terjadi, air susu dibalas air tuba, alam telah memberikan segalanya untuk kita tanpa pamrih kita membalasnya dengan merusaknya.


Rabu, 20 Juni 2012

HUTANKU KINI MALANG




hutan
Tak ada tempat berteduh bagi para hewan-hewan kita disaat anak cucu kita tumbuh berkarya di muka bumi ini, karena sesuap nasi bagi mereka-mereka yang menstratakan ekonomi pada kasta yang tinggi tanpa pertimbangan ekologi yang mereka seharusnya bisa prediksi atau karena belum tegasnya penegak hukum terhadap hutan-hutan kita atas tindakan pemerkosa hutan seperti yang diungkapkan oleh Pak Mu’i dalam bincang-bincang hangat dengannya.
Banyak opini dia, dia, dan dia yang seharusnya bertanggungjawab atas semuanya sehingga menciptakan vonis bagi suatu pihak maka yang timbul adalah perang urat syaraf semu yang saling menuduh satu sama lain. Ungkapan sejarah yang banyak memberikan kisah-kisah arif sebagai suatu media analisa komparatif terhadap suatu permasalahan, banyak kita dengar mengenai Hutan Taman Nasional Meru Betiri seperti banyak binatang-binatang yang masih terlihat di sekitar penduduk seperti Harimau, banteng, Kijang, Monyet, Anjing, berbagai jenis burung, dan lain sebagainya, namun pada waktu itu beberapa dianggap hama bagi sebagian waga sehingga mereka dianggap sebagai musuh bagi para petani.
hutan
kini hanya beberapa jumlah flora dam fauna kita yang mampu bertahan dari lingkungan, musuh dan manusia hal tersebutpun harus dihentikan dengan diberlakukan Undang-Undang beserta sanksi bagi mereka-mereka yang nakal, walaupun tidak semua merasa takut dengan ancaman tertulis tersebut. Undang-Undang RI N0. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya cukup jelas mengatur segala bentuk perlindungan bagi flora dan fauna yang berada di daerah konservasi seperti yang tertuang pada pasal 33 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3).
(   1)setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional.
(   2)Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli.
(  3)Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman raya, dan taman wisata alam.

Bukanlah perkara mudah untuk merealisasikan hal ini secara hitam di atas putih butuh proses dan butuh tanggungjawab lebih, tindakan preventif mulai berjalan ternyata bukanlah memberikan suatu titik jera bagi mereka. Penebangan pohon yang di temukan selama perjalanan dari sungai Watu Ungkal hingga Puncak Katesan di Hutan Taman Nasional Meru Betiri terlihat beberapa pohon-pohon besar tumbang karena dipotong oleh manusia entah motif apa yang mendasari mereka, jalur antara Watu Ungkal hingga Puncak Katesan hanya sebagian kecil dari luas Hutan Taman Nasional Meru Betiri sehingga memberikan beberapa asumsi bahwa kemungkinan besar di daerah lain yang tak terjamah secara umum lebih besar, bahkan menurut Bu Kholiq warga Sumber Salak bahwa mereka [para pencari kayu secara illegal] menginap di hutan sampai berhari-hari.
Secara bijaksana ini adalah sebagai masukan informasi yang penting bahwa semakin menurunnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian alam dan takut terhadap sanksi, atau sebagai evaluasi bagi kita semua sebelum tindakan represif alam yang menegur kita sehingga menimbulkan kesadaran sesaat yang kemudian hilang entah kemana. Ataukah ungkapan syair lagu Hutan-Hutan ku yang dinyanyikan oleh Tamasya Band akan menjadi nyata Meru Betiri berubah menjadi tambang sungguh memilukan jika hal ini benar-benar terjadi, sehingga menjadi sebuah cerita sejarah yang menghibur bagi anak cucu kita nanti.

Hutanku kini malang
Sapa embun pagi hari mu sejuk mengiris kulit ku hingga dingin menusuk daging
Kurangkai kata-kata bisu di setiap langkahku
Entah engkau dapat mendengar dan merasakannya

Hutanku kini malang
Apakah benar tangisan dan marahmu bisa kami rasakan
Sungguh pilu tubuhmu mencurahkan air kehidupan untuk mereka
Entah mereka dapat mendengarkan dan merasakannya

Hutanku kini malang
Tegarkah engkau ucapkan kata rela bagi mereka
Tubuhmu tak dapat bergerak namun kau bisa marah
Entah dia dapat mendengar dan merasakannnya

Hutanku kini malang
Merintihkah engkau ketika kau dianggap pelacur
Hanya rasa sesak tertahan adalah pilihan
Entah aku dapat mendengar dan merasakannya

Hutanku kini malang
Teriaklah dan hunuslah mereka dengan belati kayumu
Kuburlah mereka dengan tanahmu
Supaya kami bisa mendengar dan merasakan